Fiksi Mini: Tragedi Penusukan Cahaya
Tragedi Penusukan Cahaya via Pixabay/jhonDL Pukul 15.00 Waktu Pulang Sekolah. Aku keluar dari kelas setelah membaca Wal-‘asr . Koridor gelap. Aku pun berbenturan dengan bayangan. Untung saja, bayangan tak berwajah, jadi aku tidak bisa melihat; apakah dia marah atau tidak. Dan, bentuknya yang hitam membuatnya seperti tidak melakukan perlawanan; seolah-seolah pada dirinya tidak terjadi apa-apa. Pantang pulang sebelum padam . Efek slogan itu, terasa nyata di sekolahku yang tak kunjung diberikan lampu bohlam oleh pemerintah. Di halaman sekolah, cahaya matahari menerobos awan hitam yang menimbulkan cahaya oranye-kecoklatan dan langsung menusuk siapa-siapa pun yang melewatinya. Aku berhenti sejenak dan memutuskan kembali kelas. Beruntungnya, sepuluh menit kemudian cahaya tersebut lenyap diserap oleh awan hitam. Setelah merasa aman. Aku pun berlari-lari kecil menuju gerbang sekolah, karena cahaya yang sudah hilang tersebut digantikan oleh rintik-rintik hujan. Kelua...




