Cerpen: Rahasia Kecil
Rahasia Kecil
![]() |
| via Pixabay/NoName_13 |
Aku merasa bahagia. Pulang dari tujuh harian meninggalnya Pak
Lurah dengan membawa satu sisir pisang kepok untuk si Kacer dan Kenari. Apalagi
di perjalanan melihat Aditya—anakku—bermain gobak sodor di lapangan bulu
tangkis bersama teman-temannya.
Dengan gesit, Aditya melewati dua penjaga
dan masuk ke dalam garis finis. Selagi menunggu Aditya pulang, aku memberikan
makan si Kacer dan Kenari. Satu jam kemudian Aditya pulang dengan rambut dan
baju yang basah oleh keringat.
Betapa senangnya ia melihat bungkus pecel
ayam di meja makan. Sebelum tidur ia bercerita bahwa tak sabar ingin bertemu
dengan temannya besok di sekolah. Mendengar itu aku tersenyum dan menuntunnya
membaca doa tidur.
Entah mengapa dalam benakku timbul sebuah
perasaan yang kurang mengenakkan. Namun, aku mencoba menyanggah perasaan itu
karena tidak ada waktu. Pagi buta, aku harus pergi berbelanja bahan-bahan untuk
berdagang bakso.
***
Aku berumur lima tahun
ketika orang tuaku diambil pada tengah malam. Sebenarnya, saat itu aku belum
mengerti maksud “diambil” karena dengar kata “meninggal” saja aku belum
mengerti.
Jendela kamarku menghadap
langsung ke sebuah tanah lapang tempat anak-anak bermain. Sore bermain bola dan
malam bermain batu tujuh. Terlihat begitu menyenangkan. Namun, semenjak kedua
orang tuaku diambil pada tengah malam. Semuanya berubah.
Aku tidak lagi diizinkan oleh
teman-temanku ikut bermain. Teman-temanku menyebut aku keturunan “kafir” dan
tetanggaku menuduh orang tuaku adalah pengkhianat. Dalam kekalutan aku bertanya
kepada diriku sendiri.
Kemana perginya orang tuaku?
Mengapa orang-orang membenciku? Membenci orang tuaku? Membenci keluargaku? Apa
karena orang tuaku meninggalkanku dan tidak pernah kembali?
“Aku benci Ayah dan Ibu!
Karena mereka tidak pernah kembali, aku selalu dihina oleh teman-temanku.”
Kakek memelukku dengan ikut menangis tersedu-sedu.
Kakekku bercerita bahwa orang
tuaku itu seniman. Ayah adalah anggota Lekra dan ibu seorang penari di Gerwani.
Aku tidak tahu Lekra, yang aku tahu hanya paklik Rajimin—adik dari ayah. Dan
aku tidak tahu Gerwani, aku tahunya bude Warni—kakak dari ibu. Mendengar cerita
itu hanya membuat kubenci kepada mereka semua. Paklik Rajimin, Bude Warni, dan
lain-lain.
***
Menginjak usia remaja, aku
tumbuh dengan keterasingan dan kepercayaan diri yang rendah. Aku tidak
bersekolah dan tidak punya teman sebaya untuk bercerita.
Melihat aku yang kesepian paklik
Rajimin membawaku ke Jakarta. Ia mempunyai kenalan yang memberikanku pekerjaan
sebagai kuli bangunan. Di Jakarta, aku selalu-selalu berpindah tempat tinggal
karena tergantung di mana proyek yang harus kukerjakan.
Beberapa tahun di Jakarta, aku
mendapatkan pekerjaan tetap menjadi satpam di daerah Blok M. Mendapatkan
pekerjaan tetap dan gaji bulanan ternyata sangat menyenangkan. Tidak lupa
kukirimi sebagian kecil gajiku ke paklik Rajimin.
Meskipun hanya menjadi satpam,
rasa percaya diriku tumbuh. Aku mulai berkenalan dengan banyak orang dan
bertemu seorang lelaki bernama Supri. Ia mengajakku bergabung ke sebuah
komunitas bernama Presisi.
Menurutnya kata ‘presisi’
itu berarti ketepatan. Ia juga menjelaskan presisi adalah ukuran seberapa dekat
serangkaian pengukuran satu sama lain. Aku hanya menganguk-anguk saja walaupun
sebenarnya aku tidak mengerti.
Aku tahunya kata ‘prei’
yang berarti libur dan kata ‘sisi’ yang mungkin berarti letak. Apakah
komunitas ini berarti letak libur? Aku yang tidak pernah sekolah, bingung
sendiri mengartikan kata ‘presisi’.
Setelah bergabung dengan Komunitas
Presisi, aku mendapatkan banyak teman yang mempunyai masalah keterasingan.
Jono—si kutu buku—mempunyai teman imajiner. Aku sering melihatnya berbicara dan
tertawa sendiri di pojok ruangan.
Ia juga bercerita tentang
teman imajinasinya yang bernama Sri, membisikkan dirinya untuk melakukan bunuh
diri. Untung saja, Supri mampu membuat Jono kembali berpikir secara logis.
Lalu ada Timan—si gitaris—yang
tidak bisa tidur karena suara bising yang mengganggu kepalanya. Namun suara itu
juga membantunya meciptakan melodi yang indah dalam gitarnya.
Supri dan Jono akhirnya
menjadi sahabat, sekaligus teman curhatku. Supri selalu memberikan solusi
terbaik saat aku dan Jono mempunyai masalah. Begitupun Jono yang sangat nyaman
dijadikan tempat untuk bersandar.
Sebenarnya masih ada banyak
teman-temanku yang berjenis kelamin laki-laki. Namun, aku rasa cukup. Di Komunitas
Presisi juga ada seorang perempuan.
Namanya Surti, dua tahun
usianya lebih tua dariku. Orang tuanya juga tak pernah kembalikan ke rumah
setelah “diambil” tengah malam. Karena persamaan nasib, aku menjadi sering
mengobrol dengannya dan akhirnya kita pun menjalin hubungan asmara.
***
Di toilet umum pasar Kebayoran
Lama, aku sudah akrab dengan bau pesing, bau karat air keran, dan sampah bekas
sampo. Ketika keluar dari toilet, aku langsung menuju musala terdekat karena
azan subuh sudah berkumandang.
Selesai salam, perasaan yang
kurang mengenakkan datang menghampiriku. Aku pun mencoba meraba-raba perasaan
itu dan seketika kenangan masa laluku sudah merayap-rayap di hati dan
pikiranku.
Aku membayangkan seisi kamarku
yang juga bekas kamar orang tuaku. Ada lemari baju, meja belajar, lampu teplok,
dan gitar. Semenjak umur tujuh tahun aku mulai menggambar wajah ibuku dengan
perubahan detailnya di setiap tahunnya.
“Amin.”
“Amin.”
“Amin.”
Orang sibuk berdoa, pikiranku
malah merayap ke masa lalu. Di penghujung doa, bayangan
wajah Ibu dengan setiap detailnya merayap ke raut muka Surti. Gambar wajah yang
sering kuajak bicara kalau aku rindu.
Wajah ibu tenggelam. Timbul
wajah Jono yang mengingatkanku pada lemari bajuku yang sering kutumpah dengan
isi hatiku yang kacau. Lalu timbul wajah Supri yang mengingatkanku pada meja
belajar dan lampu teplok. Supri yang selalu memberikan solusi-solusi terbaiknya.
“Shallallahu ‘ala Muhammad.” Dalam hatiku aku berjanji akan
menceritakan cerita ini kepada istriku, kecuali tentang Surti. Karena aku hanya
akan menceritakan hubungan asmaraku dengan Surti pada Timan.
Aku bangkit. Lalu berjalan
menuju tempat penggilingan bakso.



Komentar
Posting Komentar