Kritikus Sastra Marxis yang Menjadi Pemimpin Gerakan Anti-Stalin di Hungaria
Kritikus Sastra Marxis yang Menjadi Pemimpin Gerakan Anti-Stalin di Hungaria
Judul : Realisme Sosialis Georg Lukacs
Penulis : Ibe Karyanto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, Agustus 1997
Banyak orang yang menganggap teori sastra dan telaah filsafat Lukacs merupakan
terjemahan yang paling dekat dengan pemikiran Marx. Sebelum berkenalan dengan
teori Marx, Lukacs banyak menaruh perhatian pada aliran neo-Kantian dan metode
analisis ilmu sosialnya. Dilthey, Georg Simmel, dan Max Weber—yang sedang
menjadi filsuf trend pada zamannya. Perkenalannya dengan Marx dimulai ketika ia
melanjutkan studi estetika dan filsafat di Berlin. Komitmen Lukacs pada
pemikiran Marxis tidak hanya tampak dalam setiap karya tulisnya, tapi juga keterlibatannya
dengan partai politik komunis di Hungaria.
Lukacs Lahir 13 April 1885 dengan nama Georgi Bernat Lowinger dari
lingkungan keluarga bangsawan kaya di Budapes, Hungaria. Lima tahun kemudian
ayahnya, Joszef von Lukacs, seorang manajer Bank, mengganti namanya menajdi
Georg Lukacs.
Meskipun lahir di tengah lingkungan budaya Hungaria, ia lebih banyak
berbicara tentang kultur dari filsafat Jerman. Ia merasa kurang puas dengan
tradisi tanah leluhurnya, seperti yang diungkapkan dalam His Life in
Picturees and Document tentang kebudayaan Hungaria, antara lain:
”Sesudah pada tahu bahwa saya berasal dari keluarga kapitalis dari
Lipotvaros (salah satu Distrik di Budapes yang kebanyakan warganya berasal dari
kalangan kelas menengah). Tanpa memberikan data biografis kepada pembaca,
secara singkat saya bisa mengatakan bahwa sejak masih kecil saya sungguh tidak
puas dengan cara hidup Lipotvaros. Bersamaan dengan ketidakdewasaanku waktu itu
keinginan menentang itu meluas ke segala
bidang kehidupan, dari politik sampai sastra.”
Seni Realisme yang Baik Menurut Georg Lukacs
Seni yang indah menurut Lukacs adalah yang mengungkapkan kebenaran
realitas. Kebenaran dalam konsepsi Lukacs adalah jika realitas dipahami dalam
totalitasnya. Pemahaman akan realitas total hanya terjadi jika seniman mampu
memahami gerak dialektik dari realitas. Memahami adalah mengerti dengan
melibatkan seluruh kesedaran diri.
Ilmu pengetahuan sebenarnya juga merupakan refleksi dari realitas. Tapi
refleksi seni bersifat deantropomorfis, sedangkan refleksi seni bersifat
antropomorfis. Refeklsi ilmu pengetahuan hanya berhenti pada pengertian
tentang realitas itu sendiri. Sedangkan refleksi artistik dalam seni lanjut
membawa pemahaman itu kembali pada kesadaran manusia.
Ia memahami
bahwa ke-ada-an (being) suatu realitas terlepas dari wujud obyektifnya
yang kelihatan. Menurut Lukacs pada saat seseorang melihat sesuatu, ia hanya
mampu menangkap manifestasi dari suatu realitas obyektif, tapi belum mampu
menembus intisari dari suatu realitas. Selanjutnya ketika seseorang berusaha
untuk memahami, pada saat yang sama orang itu juga berada dalam proses melampui
kesenjangan antara ”yang tampak” dan esensinya.
Dan menurutnya seni
mampu mencapai proses itu karena seni merupakan refleksi dari esensi realitas
obyektif. Reflektif merupakan terminologi yang dipakai Lenin untuk menjelaskan
teori dialektika materialisme Marx.
Ia menegaskan
bahwa seorang seniman, sebut saja sastrawan, mempunyai tanggung jawab etis
terhadap proses pembebasan manusia dari segala bentuk kepalsuan. Tanggung jawab
itu bukan sekedar sebagai suatu kewajiban yang diciptakan oleh suatu sistem dari
luar, melainkan dari pemahaman sastrawan terhadap eksistensi manusia di tengah
perkembangan gerak histrorisnya. Dengan kata lain, ia menempatkan realisme
bukan sekedar sebagai metode tapi sekaligus sebagai kriteria seni-sastra.
Menurut lukacs yang menentukan sikap penulis bukan semata-mata persoalan
psiko-emosional, melainkan gerak perkembangan masyarakat.
Menurut Kołakowski, ia adalah
satu-satunya pemikir yang mempelajari ajaran fundamental Lenin dan
membahasakannya dalam tradisi Jerman. Selebihnya Kołakowski mencatat bahwa
gagasan Lukacs tentang Lenin banyak dipakai oleh pemikir Barat, bahkan termasuk
pemikir Partai Komunis Rusia. Lukacs mencoba selalu konsisten terhadap
pemikiran Marx. Karena itu, ia tak segan-segan melontarkan kritik tajam
terhadap Partai Komunis yang dianggap tidak konsisten dengan prinsip dialektika materialime historisnya Marxis.
Ia pun memberikan garis besar yang jelas antara sastra realis dan ideologi
politik. Ia bisa menerima kedekatan hubungan realisme dengan politik, namun
dalam artian tidak dipahami sebagai kekuasaan praktis. Namun sayangnya, usahanya
tidak menemukan jalan lurus karena dalam perkemabangannya, realis justru lahir
dan berkembang di negeri yang sarat dengan persoalan politik. Usahanya pun menemui
jalan buntu ketika kepentingan politik partai komunis, terutama masa Stalin,
masuk ke dalam tradisi realisme Rusia.
Gerakan kesenian pendukung rencana pembangunan Soviet tidak sepenuhnya
didasarkan pada dialektika
materialisme yang menjadi prinsip
pengetahuan sejarah Marx. Bahkan dalam pertemuan pertama dengan para penulis
Soviet, Gronsky menegaskan bahwa dialektika materialisme bukanlah syarat utama
untuk menghasilakan karya-karya yang secara ideologis bernilai.
Dengan pernyataan itu Gronsky juga telah mengesampingkan prinsip
materialiasme dialektika kreatif yang menjadi metode utama para penulis anggota
Asoisasi Penulis—penulis proletar Rusia. Bagi Gronsky yang penting adalah
menempatkan metode yang dilihat paling dekat kaitannya dengan kepentingan
partai.
Dalam perkembangan berikutnya, di zaman kejayaan Stalin, konsep realisme
sosialis didasarkan pada pemujaan yang berlebihan terhadap pribadi Stalin.
Upaya Gronsky itu tampak ketika bulan April 1933 ia mengumumkan bahwa realisme
sosialis adalah metode seni-sastra yang diperjuangkan dan dirumuskan langsung
oleh Stalin. Pengumuman yang sama dipertegas Gronsky dalam kesempatan Kongres I
para penulis Soviet, Agustus 1934.
Ditangan partai, tepatnya Stalin, realisme dilembagakan menjadi media
propadaganda. Kedalaman—kontemplasi—yang semula menjadi ciri seni (sastra)
realis dalam memahami realitas sosial tidak ada lagi. Kenyataan sehari-hari hanya diselimuti kabut
propaganda yang kental dengan nuasa kepentingan partai. Satu-satunya kebenaran
hanya di tangan Stalin.
Pengembaraan Intelektual George Lukacs
Judith Marcus dan Zoltan Tar memetakan pengembaraan intelektual Lukcs menjadi
dua periode. Periode petama merupakan awal pemikiran Lukcas yang banyak
diwarnai oleh pandangan-padangan Georg Simmel dan Max Weber. Periode ini ditandai
dengan lahirnya buku Soul and Form. Lalu periode kedua adalah periode
pendewasaan Lukacs dalam memerdekakan manusia. Periode ini ditandai dengan menguatnya
pemikiran Marx dalam teori-teorinya.
·
Perode Pertama
Dari Budapes, Lukacs melanjutkan studi ke Berlin dan
meraih gelar doktor filsafat pada tahun 1907. Di Berlin, Ia berkenalan dengan Bela Balazzs (1884-1949),
seorang penyair, novelis dan kemudian kritikus film Hungaria. Dari Bela Balazzs,
ia banyak belajar tentang puisi dan drama.
Selesai mengikuti program doktoral Lukacs masih intensif
mengikuti program seminarnya Dilthey dan Simmel sampai tahun 1910. Ia mengakui
mulai tertarik dengan pemikiran Marx karena kepandaian Simmel menggunakan teori
Marx untuk pembahasan ilmu sosial. Baginya Simmel telah memberikan perangkat
baru untuk mendapatkan wawasan baru yang memperlihatkan aspek-aspek sosiologis
dari karya cipta seni.
Dari Berlin
ia melanjutkan studinya ke Florence (Firenze, Italia). Selama di
Florance (1910-1912) ia menekun bidang
filsafat estetika sistematik. Pada saat yang sama Lukacs menerbitkan jurnal
filsafat yang berjudul Logos. Selesai studi di Italia, ia diajak Ernst
Bloch kembali ke Jerman. Kali ini, Ersnt Bloch memperkenalkan Lukacs dengan
lingkungan akademis Heidelberg. Di Heidelberg, Lukacs bertemu dengan beberapa
pemikir besar macam Karl Jspers, Emil Lask, Max Weber. Dan ia tinggal di
Heidlberg sampai tahun 1915.
·
Periode Kedua
Lukacs menyebut masa perubahan ke arah Marxis (berkisar
1913-1914) sebagai periode ketegangan intelektual. Tapi, ia menganggap
ketegangan itu sebagai proses belajar berpikir dialektis. Karena itu ia tidak
melihat secara hitam-putih kontradiksi idealisme etisnya dengan pemikiran
Marxisme pada periode berikutnya.
Keyakinan itu menjadi nyata sesudah
Lukacs mengalami peristiwa revolusi Rusia 1917. Revolusi Bholsevik semakin
meyakinkan harapannya menjadi lebih tegas mengarah pada praksis. Lalu, ia
mewujudkan komitmennya dengan keterlibatannya sebagai partai Komunis Hungaria,
Desember 1918. Bahkan sebelum rezim komunis Bela Kun tumbang, ia sempat menjadi
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dari bulan Maret sampai Agustus 1919.
Setelah rezim Bela Kun ditumbangkan (baru berusia 133 hari) oleh rezim kiri Horthy, ia bersama anggota komunis lainnya lari ke Wina samapai tahun 1929. Dalam pelariannya kaum Hungaria terbagi dalam dua kelompok yang kemudian saling bersaing. Kelompok pertama adalah komunis yang setia pada moskow dan berada di bawah pimpinan Bela Kun. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari orang-orang komunis yang berda di Viena dan Berlin dipimpin oleh Jenna Laudler.
Ketengangan dalam partai dan pertikaian antar kelompok memberi inspirasi Lukacs dan sekaligus mempertegas sikap politik-etisnya. Dalam beberapa tesis politiknya Lukacs senantiasa melontarkan kritik terhadap gaya pemerintahan diktator proletar. Karena kritiknya yang tajam Lukacs dituduh oposan dan kemudian dikeluarkan dari partai.
Kemudian pada tahun 1956, ia menjadi pemimpin ”Petofi
Circle”, sebuah gerakan intelektual yang berperan besar dalam pemberontakan
anti ”sektarianisme” Rusia. Ia gencar mendukung gerakan anti-Stalin di Hungaria,
dan terus menerus melancarkan serangan terhadap distorsi partai yang disebabkan
oleh dogmatisme Stalin.
Ketika gerakan anti-Stalin di Hungaria
mencapai pucanknya di tangan pemerintah Imre Nagy, ia pun mendukung dengan
keterlibatannya sebagai anggota komite Sentral Partai dan beberapa saat dipilih
sebagai menteri kebudayaan. Namun sayangnya, revolusi Hungaria tidak bertahan
lama. Rusia mendesak masuk dan pemerintahan
Imre Nagy kocar-kacir, sebagian dibunuh oleh tentara Rusia, sebagian lagi
(termasuk Lukacs) lari ke Rumania. Tahun 1957 Lukacs kembali ke Budapest dan
mempersembahkan sisa waktunya untuk menekuni bidang estetika.


Komentar
Posting Komentar