Fiksi Mini: Ketempelan Paper
Ketempelan Paper
![]() |
| via Pixabay/geralt |
Pada hari minggu. Mulut Aini tidak bisa berhenti meracau. Orang tuanya pun panik hingga memanggil tiga ustaz dan dua dukun ke rumahnya. Lantunan ayat suci dan bau menyan pun menghiasi rumahnya.
***
Sepulang dari kampus pada Jumat malam. Aini mengalami demam tinggi. Orang tuanya pun membawa pergi ke puskesmas. Dokter bilang Aini hanya kelelahan. Namun hingga Sabtu sore, demam Aini juga tak kunjung turun. Panas tubuhnya masih berkisar 40 derajat celcius.
Sabtu malam,
keadaan semakin memburuk. Aini mulai meracau. keluarganya dan tetangganya pun
tidak bisa tidur semalaman. Salah satu tetangganya pun, menyarankan orang
tuanya agar Aini dibawa kepada orang ’pintar’. Karena itu, orang tuanya mulai
sibuk mengabari berbagai ustaz dan dukun, yang sudah terbukti mampu
menyembuhkan penyakit.
Minggu pagi,
tiga ustaz datang ke rumah Aini. Para ustaz tersebut meminta orang tuanya
memberi Aini segelas air mineral untuk didoakan. Lantunan ayat-ayat suci mulai
dikumandangkan. Tetangga-tetangga yang merasa kasihan pun turut meramaikan
pembacaan doa.
Namun, hingga
Minggu siang tidak ada perubahan berarti untuk Aini. Melihat Aini masih terus
meracau. Akhirnya orang tuanya memanggil dua dukun ke rumah. Sebenarnya ada rasa tidak enak yang merayap ke
dalam benak orang tuanya. Karena kata ’musyrik’ terus berenang di dalam hati
dan pikiran orang tuanya.
Sehabis magrib,
dua dukun tersebut mulai meracik berbagai kembang dalam baskom. Ketika merasa sudah
cukup mereka mulai membakar dupa. Tiba-tiba suasana berubah mencekam dan wangi
menyan mulai mengyengat hidung.
Salah satu dukun
yang bernama Sutardji mulai mengumandangkan Mantra.
tujuh sayap merpati
sesayat langit perih
dicabik puncak gunung
sebelas duri sepi
dalam dupa rupa
tiga menyan luka
mengasapi duka
puah!
kau jadi Kau!
Kasihku
Setelah selesai membaca mantra Sutardji
pun menyembur Aini. Anehnya Aini semakin histeris.
Beruntung salah satu dukun yang memegang
Kitab Mantra Orang Jawa berhasil menenangkan Aini. Dukun tersebut bernama
Sapardi. Setelah menenangkan Aini, mulut
Sapadi komat-kamit membaca Mantra Sakit Encok.
hai encok yang berasal dari batu
pulanglah, encok
pulanglah ke tempat asalmu
hutan gung liwang-liwung
Setelah selesai
dibacakan mantra badan Aini mengeluarkan suara “kre-tek-kre-tek”. Dan, Aini pun
mengeluh keenakan. Lalu Sapardi meminta nomor WhatsApp (WA) Aini. Kemudian Aini
mengucapkan nomor WA-nya.
Setelah menyimpan
nomor WA Aini, Sapardi mengirimkan pesan pada Aini, “Karena orang tuamu sudah
membayar mahalku, sini aku bantu kerjakan tugasmu, Dik. Aku melihat hantu
bernama ’paper’ menggelayut di pundakmu.”
Tamat



Komentar
Posting Komentar