Kumpulan Puisi: Azab

via Pixabay


Azab

Untuk kamu,
Yang berbangga diri membicarakan pekerjaanmu
Di depan pengangguran

Apa kau tak tahu ia lebih butuh pekerjaan
Bukan cerita orang berkerja

Andai ia seorang perokok
Ia rentan terkena jantung
Apalagi mendengar ceritamu
Yang mempercepat aliran darah
Di jantungnya tersumbat

Andai
Aku jadi berandai-andai
Azab apa yang tepat
Untuk pekerja yang membicarakan pekerjaan
Di depan pengangguran

Bakti Negara

Corona
Karenamu pengangguran membeludak
Apalagi aku seorang fresh graduate
Makin sulit saja aku dapat kerja

Indonesia
Beruntungnya engkau
Memiliki warga negara
Yang tingginya berkisar 160-165cm

Karena tinggi badan wargamu-lah
Yang membuat pengangguran
Di Indonesia lebih rendah
Daripada pengangguran di Amerika

Di Atap Masjid

Tak ada konten malam ini.
Teman-temanku sibuk
dengan pasangannya masing-masing.

Hanya aku dan rindu.
Di atap masjid,

aku menghitung banyaknya ruangan
yang lampu masih menyala

di gedung yang menghampar penjuru mataku,
hanya sekedar mengusir rindu.

Tapi, aku juga tak ingin sendiri.

Tak Ada Teman Mengopi

Pagi hari.
Terdengar langkah kaki menuju kemari
Kulihat bayangnya dari dalam kos
dan kuterka-terka ia bukan anak teknik sipil.

Ia tak menyelipkan sebatang pensil
di sela-sela kupingnya yang caplang,
tapi menyelipkan koran Kompas
di gagang pintu
yang tak pernah marah dicekik
ketika ingin dibuka.

Mungkin, ia orang baik
dan tak akan melakukan itu.
Atau memang ia tak berminat
masuk kemari untuk sekedar mengopi.

Kantuk

Aroma pagi
dan hangat mentari
menyengat tubuhku
yang lelah dan meyeruak
ke dalam sisa-sia tangis semalam
yang bercampur bau tak sedap
dari tempat sampah
yang kepenuhan muatan
yang melewati sela-sela pintu kosku
yang tidak tertutup rapat;

karena rasa kantuk membuatku
ingin cepat-cepat meluapakan dunia.

Takut Gemuk

Tahukah kalau kamu sebenarnya
hidup di ruang hatiku yang sempit ini?

Maafkan aku.

Jika dalam sehari
aku hanya memberimu makan sekali.
Dan, tak memberimu segelas susu.

Aku takut.

Aku takut nanti kamu tumbuh gemuk
dan merasa engap tinggal di ruang ini.

Di sisi lain, aku pun juga takut gemuk:

Aku membayangkan kamu
bisa leluasa bergerak
ketika nanti
hatiku juga ikut melebar.

Muhammad Ridwan Tri Wibowo, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2022

 

Komentar

Postingan Populer