Cerpen: Jo
![]() |
| via Pixabay |
Namanya hanya Jo. Ia tak punya nama panjang. Tinggi 160 cm dan berambut cepak-ngehe.
Satu tahun yang lalu,
pukul 02.00, Jo ditemukan sedang kayang di bawah lampu jalanan oleh seorang peremuan
bermata sayu. Awalnya ia mengira Jo adalah malaikat yang sedang menyamar
menjadi orang gila.
Ketika berjalan ke
warung Madura, perempuan itu melawatinya sembari berdoa yang baik-baik. Ia
percaya doa yang dikumandangkan pada malam buta akan dikabulkan.
Ya, Tuhanku, semoga
kesedihan yang bergelayutan di bawah mataku segera terlepas. Tangan-tangan
kesedihan itu kuat sekali mencengkram kantung mataku.
Sampai
di warung Madura, ia melihat penjaga warungnya menuangkan bensin ke dalam
tangki motor pelanggan--sekaligus
menelepon seseorang di seberang sana. Ia menuju ke dalam warung melewati
dua orang tersebut dan langsung mengambil satu bungkus mi instan dan sebutir
telur ayam.
Setelah
mengambil mi dan telur, ia menengok sebentar ke freezer es krim. Namun,
es krim semangka kesukaannya tidak menampakan dirinya. Tidak menyerah. Ia
mengaduk-aduk area teritorial es krim coklat, stroberi, kopi, dan lain-lainnya.
Sekian
menit mengacak-acak freezer, akhirnya ia menyerah. Lalu, ia panggillah
penjaga warung itu untuk membayar belajaannya
Di
jalan pulang ia berpapasan kembali dengan Jo--masih dalam keadaan kayang. Ia panggil, ”Mas!” hingga berkali-kali.
Karena kesal ia melemparkan sebutir telur ayam--yang niatnya akan direbus
bersama mi instan--ke arah mukanya.
Namun,
Jo masih saja membeku. Ia mulai merasa ganjil dengan apa yang dilihatnya. Dalam
hatinya berkata, "Ini orang apa patung si sebenarnya?” seraya mengoyang-goyang
tubuh Jo yang kaku. Ketika ia menggoyang-goyang tubuh Jo, seorang satpam
komplek menghampirinya.
Satpam
komplek bertanya, “Ngapain kamu malam-malam dengan laki-laki?” dengan muka yang
dibuat garang. Perempuan bermata sayu terlihat kikuk. Ia bingung karena harus
berkata apa.
Eh,
kamu malah diam. Siapa lelaki itu? Kenapa ia bergaya kayang seperti itu?” Tanya
satpam komplek sambil menyapu bibirnya dengan lidah.
”Tidak
tahu, Pak. Saya menemukannya sudah dalam posisi kayang.”
”Yang
benar kamu, kamu habis berbuat apa tadi?” Sambil mengedipkan salah satu
matanya.
Tiba-tiba
terdengar suara ’pluk’. Sambil mengelus-elus pipinya satpam komplek itu
mendorong perempuan bermata sayu hingga terjatuh.
”Kurang
ajar kamu, Jalang! Sudah terciduk ingin melakukan mesum. Berani-berani kamu
menampar saya.”
”Saya
bukan wanita murahan, bangsat! Mulut bapak yang jalang.”
Terdengar
suara ’pluk’. Kali ini, perempuan bermata sayu yang ditampar oleh satpam
komplek. ”Ayo ikut saya ke rumah pak RT, bawa lelaki bajingan itu sekalian!”
”Ayo
bajingan!” Teriaknya kepada Jo yang sedang kayang.
Karena
Jo tidak mau menurut. Satpam komplek menghampirinya dan menendang kedua
tangannya. Namun, tangan Jo tidak bergeser sedikit pun. Karena merasa malu ia
menendang tangan Jo sekali lagi. Saptam komplek itu malah terjatuh.
Dengan
amarah bercampur rasa malu. Satpam komplek meninggalkan Jo sendirian. Ia
membawa perempuan sayu dengan membisu hingga rumah pak RT.
***
Sehabis subuh. Sudah lumayan ramai warga yang
melihat penampakan Jo. Warga sibuk memfotonya dan menyebarkannya ke media sosial. Pukul 07.00
lokasi Jo kayang sudah ramai sekali. Sampai-sampai ada warga yang bertengkar. Warga tersebut mengaku belum
ke bagian melihat Jo dari dekat.
Gabungan
satpam komplek pun kewalahan menghadapi warga. Ada anak remaja emosian yang
bertengkar karena tidak sengaja kepalanya tersikut oleh anak muda yang ingin
memfoto Jo ke story sosial medianya. Lalu ada ibu-ibu ceweret yang lupa berbelanja
ke pasar dan bapak-bapak pengangguran yang lupa memberi makan burung kesayanganya.
Sejam
kemudian suasana semakin tidak kondusif. Pertengkaran antar warga pecah. Dua
orang pemuda meninggal di tempat. Polisi baru datang setengah jam kemudian.
Polisi mengira laporan tentang Jo hanyalah lelucon pak RT saja. Kepala regu
polisi yang bertanggung jawab atas masalah ini pun, berkali-kali meminta maaf
kepada warga.
Beberapa
jam kemudian, dua mobil pengangkut alat berat datang. Namun usaha untuk
mengangkut Jo gagal. Hingga sore hari datanglah satu mobil. Dan, ternyata usaha
terebut gagal lagi. Pihak polisi pun mulai kelimpungan karena malam hari akan
tiba.
***
Setelah pulang dari rumah pak RT seorang diri, perempuan
bermata sayu diculik oleh seorang lelaki kurus berambut ikal. Lelaki itu pun memasukkannya ke sebuah mobil jeep tanpa
ada perlawanannya.
Karena
heran lelaki berambut ikal itu bertanya padanya.
”Mengapa
kamu tidak melawan sedikit pun ketika tadi aku culik tadi?”
”Kamu
curang. Kamu menculikku dengan selembar kertas berisi garis takdir hidupku.”
”Haha.
Tapi tidak perlu takut. Aku bukan malaikat utusan Tuhan.”
”Lalu
kamu siapa?”
”Aku
adalah editor buku dari penulis bertopi pet. Penulis itu sekarang sedang berada
di rumah sakit.”
”Lalu
apa hubungan dengan kau menculikku dengan sakitnya penulis bertopi pet?”
”Baik,
aku akan ceritakan sambil jalan,” sambil menepuk pundak temannya yang menjadi
supir sebagai tanda untuk berangkat.
”Sebelum
bercerita aku ingin bertanya, apakah kamu jomblo?”
”Apa
si kamu laki-laki ganjeng banget, nanya-nanya segala, kalau iya aku pun juga
tidak mau berpacaran denganmu.”
”Bukan
itu maksudku. Aku hanya menanyakan seperti yang diperintahkan oleh penulis
bertopi pet.”
***
Di
perjalanan menuju rumah sakit, lelaki berambut ikal menceritakan bahwa lelaki
yang sedang kayang di tiang listrik itu bernama Jo dan tidak mempunyai nama
panjang. Jo merupakan tokoh fiksi dari penulis bertopi pet di sebuah novel yang
berjudul ”Lampu Ayam”.
Dalam
cerita novel tersebut, Jo sedang berkunjung ke rumah teman kuliahnya. Lalu,
rumah teman kuliahnya Jo diberi alamat oleh penulis bertopi pet; dengan
alamat yang ada di dunia nyata. Dan, alamat itu diambil dari alamat komplek
tempat perempuan bermata sayu tinggal.
Pada
dini hari, Jo pun sedang mabuk bersama temannya, dan bermain truth or dare.
Lalu, Jo memilih dare kemudian temannya menyuruhnya kayang di bawah
tiang listrik dekat warung Madura yang penjaganya hampir setiap saat selalu
telponan.
Kemarin
sehabis Isya, editor itu mengecek keberadaan rumah temannya Jo, warung Madura
yang penjaganya selalu telponan, dan lampu jalanan dekat warung Madura
tersebut. Editor itu langsung kaget ketika melihat tiang dan warung Madura itu
benar-benar ada di dunia nyata. Namun ketika mencari rumah temannya Jo, editor
berambut ikal ini hanya menemukan sebuah kebun tidak terurus.
Lalu
ia mulai panik dan tiba-tiba dalam dirinya bergetar seolah memberi pertanda
akan ada masalah besar di negeri Wakanda. Sebelumnya ia pernah bertemu Jo di
kedai kopi samping terminal, tak jauh dari Kampus Hijau yang berada di ibukota Wakanda,
yang direnovasi mirip seperti distrik.
Tak
lama kemudian editor berambut ikal ini, segera
pergi ke rumah sakit untuk menceritakannya langsung kepada penulis
bertopi pet. Di rumah sakit mereka berdua berdiskusi dan mengambil keputusan
siapa yang menemukan Jo dini hari nanti berhak melanjutkan penulisan novelnya.
Editor
berambut ikal pun bertanya, mengapa bukan dirinya saja yang melanjutkan
penulisan novel ”Lampu Ayam”. Penulis bertopi pet pun menjawab bahwa ia belum
menuliskan kisah percintaan Jo dengan seorang perempuan.
”Biarkan
dia menemukan Jo mempunyai hak istimewa melanjutkan penulisan novelku. Aku
berharap perempuan itu sedang jomblo dan menjadikan Jo sebagai pacarnya,”
ujarnya sambil tertawa yang kemudian dengan terbatuk-batuk.
***
Ketika
sampai di area di mana Jo sedang kayang, betapa kagetnya ia bahwa Jo
benar-benar kayang di bawah lampu jalanan. Tak lama kemudian perempuan bermata
sayu yang ingin membeli mi instan, sebutir telur, dan sebatang es krim rasa
semangka melewati Jo.
Awalnya
perempuan bermata sayu menganggapnya sebagai malaikat yang turun dari langit,
karena ia percaya bahwa malaikat selalu turun di jam-jam segitu. Ia hanya
melewatinya sambil berdoa dan kemudian mengusap wajahnya, lalu berjalan ke
warung Madura.
Setelah
selesai belanja dari warung Madura, perempuan sayu masih bertemu dengan Jo. Ia
yang penasaran mencoba menegur Jo dan menggoyang-goyang tubuh Jo. Namun
sialnya, satpam komplek menafsirkan perempuan bermata sayu itu sedang berbuat
mesum dengan Jo. Memang keadaan komplek itu selalu sepi di jam-jam segitu.
Satpam
komplek pun mendekati mereka berdua. Niatnya satpam komplek ingin membawa
mereka berdua. Namun Jo yang berat batu—malah lebih berat—membuat satpam
komplek hanya membawa perempuan bermata sayu ke rumah Pak RT.
Di
dalam mobil Jeep, editor berambut ikal menyuruh supirnya mengikuti perempuan
bermata sayu dan satpam komplek. Setelah selesai urusan dari rumah pak RT,
perempuan bermata sayu pulang seorang diri, sementara satpam komplek malah
pergi ke warung kopi yang arahnya bersebrangan dengan lokasi Jo.
Ketika
perempuan bermata sayu berjalan seorang diri, tiba-tiba editor berambut ikal
menyekapnya dengan lembaran takdir, yang membuat perempuan bermata sayu tidak
bisa melawan.
***
Setibanya
di rumah sakit, editor berambut ikal meminta izin pihak rumah sakit agar
perempuan bermata sayu bisa masuk bertemu dengan penulis bertopi pet. Setelah
berdebat agak panjang akhirnya, perawat menyetujui dengan batasan waktu sepuluh
menit saja.
Beruntungnya
penulis bertopi pet sudah terbiasa bangun sebelum azan subuh, jadi perempuan
bermata sayu tidak perlu susah-susah membangunkannya. Tanpa perlu berlama-lama,
penulis bertopi pet berbicara kepada perempuan bermata sayu dengan tegas,
meskipun ia melakukannya dengan pelan-pelan dan dipaksakan.
Penulis
bertopi pet menyuruhnya untuk datang ke menginap di rumah editor berambut ikal
untuk sementara. Penulis bertopi pet beralasan bahwa perempuan bermata sayu
harus membaca file novel tersebut yang sekarang berada di rumah editor berambut
ikal.
Sehabis
itu, mereka disuruh berdiskusi untuk mengambil keputusan sebelum negeri Wakanda
kacau-balau karena kehadiran Jo di dunia nyata.
***
Malam
hari. Kabar berita semakin mengejutkan warga di negeri Wakanda. Tiba-tiba
lelaki yang sedang kayang di bawah lampu jalanan hilang. Polisi yang tadinya
kebingungan memindahkan Jo dan mencari ke mana perginya perempuan bermata sayu
untuk diwawancara, sekarang kebingungan mencari ke mana perginya lelaki yang
sedang kayang di bawah lampu jalanan.
***
Perempuan
bertama sayu dan editor berambut ikal sepakat membuat cerita bahwa Jo pergi
mengambara ke negeri Senja—untuk sementara waktu sebelum melanjutkan penulisan
”Lampu Ayam” lebih jauh lagi.
***
Setelah
membuat Jo mengembara ke negeri Senja, esok harinya perempuan bermata sayu pergi
ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Hanya keterangan seadanya.
Sehabis itu, untuk beberapa hari ke depan dirinya kerap didatangi oleh wartawan
dan warga untuk dijadikan konten. Dan, karena malas berurusan dengan mereka, ia
hanya menjawab seadanya saja.
Dan
seminggu kemudian, penulis bertopi pet meninggal dunia. Para kritikus sastra
mulai menghubung-hubungkan hilangnya lelaki yang sedang kayang di bawah lampu
jalanan dengan meninggalnya penulis bertopi pet.
Para
krtikus sastra beranggapan lelaki yang sedang kayang di bawah lampu jalanan itu
merupakan tokoh utama dalam novel yang mungkin sedang digarap oleh oleh
mendiang penulis bertopi pet.
Karena
penulis bertopi pet meninggal dan tidak bisa meneruskan ceritanya, tokoh
utamanya itu hilang sebelumnya akhirnya penulis bertopi pet meninggal. Banyak
kritikus sastra yang bertanya kepada editor berambut ikal tentang novel yang
digarap penulis bertopi pet.
***
Satu tahun kemudian.
Novel
“Lampu Ayam” tidak jadi terbit. Jo yang merupakan tokoh utama dalam novel
tersebut kembali membuat gaduh negeri Wakanda.
Firasat
penyair bertopi pet ternyata salah. Perempuan bermata sayu tidak membuat Jo
mencintai dirinya, tapi membuat Jo sebagai seorang penulis anarkis dan rela
jomblo karena telah cinta mati dengan anarkisme dan benci sampai mati terhadap
negara.
Dalam
cerpennya yang berjudul “Aksi Pembuhanan Bapak Demi Lanjut Kuliah”, ia membuat cerita
tentang mahasiswa di Kampus Hijau yang tidak sanggup membayar uang semester.
Dalam
renungannya, ia menuliskan lima puluh sembilan mahasiswa Kampus Hijau membunuh
bapaknya, yang akhirnya berujung dihukum mati oleh negara. Lalu atas kejadian
tersebut, sebagai aksi solidaritas setengah mahasiswa Kampus Hijau melakukan
hal yang sama.
Pemerintah
pun kebingungan atas kejadian ini. Apalagi akhirnya, aksi pembuhunan tersebut
dilakukan hampir dua juta mahasiswa perguruan tinggi di seluruh negeri Wakanda.
Untuk mengatasi masalah ini pemerintah Wakanda membangun satu penjara besar di
setiap pulau di negeri Wakanda.
Karena
cerpen Jo yang jadi kenyataan, editor berambut ikal memutuskan bertemu dengan
perempuan bermata sayu. Dalam pertemuan tersebut mereka sepakat untuk menghapus
seluruh file novel ”Lampu Ayam” demi keamanan dan kenyamanan negeri Wakanda.
Setelah
file novel tersebut terhapus, lima puluh sembilan mahasiswa Kampus Hijau dan
dua juta bapak-bapak yang menjadi korban pembunuhan tersebut bangkit dari
kematian. Mereka bergerak ke kampus di daerahnya masing-masing dan membakarnya.



Komentar
Posting Komentar