Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Keluarga di Kampung Salatuhur Cikoneng
![]() |
| Sumber foto: Pribadi/ Pintu masuk ke kampung Salatuhur Cikoneng |
Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Keluarga di Kampung Salatuhur Cikoneng
Persahabatan Kesultanan Banten dengan Keratuan Lampung pada masa lampau, akhirnya membentuk suatu kampung di daerah Anyer, Serang, Banten yang menggunakan bahasa Lampung dalam berkomunikasi di kehidupan sehari-hari. Namun belakangan ini, terdapat anak dari warga kampung ini yang menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi di kehidupan sehari-harinya.
BANTEN, FILO - Sambil menggerakkan tangan kanannya,
Suheli (63), spirit kampung Salatuhur Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten
Serang, Banten menceritakan sejarah asal mulanya suku Lampung di Serang, Banten
pada (26/05/23).
Ia
menuturkan, bahwa Sultan Banten menggunakan debus—tari tradisional Banten—untuk
menyebarkan islam. Tujuannya untuk menjadi tontonan satu wilayah setiap berdakwah.
Untuk menonton debus, penduduk Banten harus membeli tiket dengan dua kalimat
syahadat.
Setelah Kerajaan Pajajaran, Kedaung, Kadang Wesi,
Kuningan, dan Parung Kujang runtuh, Suheli mengatakan, bahwa sebagian nenek
moyangnya pulang ke Lampung dan sebagian memilih menetap di Banten.
Nenek moyangnya yang tinggal di Banten, memilih hidup
tidak berdekatan dengan Kesultanan Banten. Mereka menjadikan suara meriam Ki
Amuk sebagai batas pendengarannya.
”Sampai di gapura yang ada di batas kampung Cikoneng,
dekat pantai, itu ada. Yang ada tulisan Lampung Sainya. Lalu di menara
Kampung Bojong juga ada, sampai di kecamatan Anyar. Di situlah mereka itu
berdiam,” ujarnya sambil menunjuk-nunjuk tangannya ke berbagai arah.
Lalu, Suheli menceritakan nenek moyangnya terpilih yang menjadi
residen, mengadakan pertemuan dengan dengan Sultan Banten untuk membahas nama
kampung. Menurutnya, dahulu kampung ini masih hutan belantara dan belum
mempunyai nama.
Saat mengadakan pertemuan itu, Sultan Banten dan nenek
moyangnya mendengar suara adzan zuhur. Karena itu, Sultan Banten memberi tahu kepada
nenek moyangnya untuk memberikan nama kampung ini dengan nama kampung shotal
zuhur. Dan sampai sekarang pun, kampung ini terkenal dengan nama Kampung
Salatuhur.
Ia menambahkan, ketika ingin melakukan salat zuhur Sultan
Banten tidak menemukan air untuk melakukan wudhu. Kemudian Sultan Banten
menancapkan tongkatnya ke tanah, lalu ketika dicabut keluarlah mata air.
Setelah kejadian itu, nenek moyangnya membuat sebuah sumur sedalam dua meter
untuk menyucikan tempat ini.
”Para prajurit cari air di mana-mana nggak ada,
dikorek-koreklah sama Sultan Banten, keluar air untuk wudhu. Itu jadilah Sumur
Agung.” ucapnya sambil memutar-mutar jari telunjuk di tangan kanannya.
Mengutip detiknews, Persahabatan Lampung-Banten
sudah terjalin berabad-abad lalu saat Kesultanan Banten dipipin oleh Sultan
Maulana Hasanudin. Persahabatan itu dibuktikan dengan adanya prasasti Dalung Kuripan, sebuah lempengan logam perunggu
yang berisikan ikrar antara Sultan Maulana Hasanuddin dan Haji Muhammad Zaka
Walitullah dari Keratuan Lampung.
Lalu menurut wikipedia, Realiasasi Dalung Karipan
berlanjut pada saat penaklukan Kerajaan Sunda Pajajaran, Kedaung, Kandang Wesi,
Kuningan, dan terakhir, daerah Parung Kujang (sekarang Kabupaten Lebak) terjadi
pada abad ke-17, satu abad sesudah peristiwa Dalung Kuripan, menjadi tanda
lahirnya keberadaan Cikoneng.
Pada saat itu, Kesultanan Banten diketahui sedang berada
dalam pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Kemudian Keratuan Lampung
mengirimkan empat orang parjurit kakak-beradik, yaitu Menak Gede, Menak
Iladiraja, Menak Sengaji, dan Menak Parung.
Karena kesuksesannya keempat prajurit Keratuan Lampung
ini, Sultan Agung Tirtayasa mengangkat Menak Gede sebagai adipati di Kesultanan
Banten. Namun setelah satu tahun menjabat, Menak Gede meninggal dunia. Jabatan
adipati pun diserahkan kepada adiknya, Minak Iladiraja. Ia pun mengalami nasib
yang sama, wafat setahun kemudian.
Sepeninggalan Menak Iladiraja, Menak Sengaji dipanggil
Sultan untuk menggantikan Menak Iladiraja. Akan tetapi Menak Sengaji tidak
langsung menerima jabatan itu. Ia meminta syarat untuk diangkat menjadi adipati
di luar daerah kekuasaan kakaknya.
Menak Sengaji ingin daerah Banten bagian barat, daerah
yang langsung berhadapan dengan daerah leluhurnya yakni Lampung. Ia juga
meminta dibolehkan membawa saudara-saudaranya dari Lampung.
Akhirnya pun Menak Sengaji sepakat menempati kawasan
Pantai Anyar yang dulu bernama Alas Priuk dan pelabuhannya dinamai Pelabuhan
Priuk. Kemudian mereka mendirikan pemukiman orang Lampung yang diberi nama
Kampung Bojong.
Berputarnya roda waktu jumlah 40 kepala keluarga itu
mulai beranak-pinak, Kampung Bojong kemudian dimekarkan kembali menjadi empat
kampung yaitu Kampung Bojong, Kampung Cikoneng, Kampung Tegal, dan Kampung
Salatuhur.
Penggunaan bahasa Indonesia dalam menjalin komunikasi
sehari-hari bersama keluarga di Kampung Salatuhur Cikoneng
![]() |
| Sumber foto: Pribadi |
”Kalo di Lampung kan ’agadipa’, kalo di sini ’agodipo’.
Itu artinya ’mau ke mana’,” lalu ia menambahkan bahwa bahasa Lampung Cikoneng
tidak merealisasikan bunyi [R], ”Kalo di Lampung bunyi ’er’ pake
tenggorkan. Tapi kalo di sini ’er’nya biasa aja,” lanjut Suheli.
Selain itu, juga terdapat kata yang sama namun memiliki
arti yang berbeda. Dalam bahasa Lampung ’jemoh’ berarti ’besok pagi’,
sedangkan dalam bahasa Lampung Cikoneng ’jemoh’ berarti ’kapan-kapan’.
Walaupun artinya berbeda, ia memaparkan bahwa orang
Lampung bisa memahami bahasa Lampung Cikoneng ini. Berbeda dengan orang dari
kampung ini yang belum tentu dapat memahami bahasa orang Lampung di seberang sana.
”Kalo kami kan ga pernah rantau ke sana, jadi kurang
jelas. Di Lampung sana dialek juga masing-masing. Apung, Liwa, Kemering, terus
banyak lagi,” ujarnya sambil memejamkan mata.
Sesudah menjelaskan ciri khas bahasa Lampung Cikoneng,
tim redaksi Filo menanyakan kepada Suheli apakah warga kampung ini masih
menggunakan bahasa Lampung dalam berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari, ia
menyakinkan bahwa hampir seratus persen warga di sini masih menggunakan bahasa
Lampung.
”Komunikasi di keluarga sehari-hari pake bahasa Lampung.
Kecuali sama cucu yang tinggal di kota, kalo datang ke sini baru pake bahasa
Indonesia. Soalnya kalo ditanya pake bahasa Lampung, dijawabnya juga pake bahasa
Indonesia,” ucap Suheli.
Ketika ditanya bagaimana dengan kehadiran warga pendatang
di kampung ini, ia menjawab bahwa rata-rata warga pendatang di kampung ini
hanyalah sebatas mantu.
***
Ketika dijumpai oleh tim redaksi Filo pada (27/05/23),
Marwiyah (50), sedang melayani seorang ibu-ibu yang membeli bumbu racik sayur
sop. Setelah selesai, barulah ia menyuruh kami duduk. Ketika ia berbicara
terdengarlah dialek Sunda-Gunung dari mulutnya.
Ia adalah warga pendatang yang berasal dari Mancak, Banten. Ia menikah dengan Indra, warga asli
kampung ini, yang merupakan keponakan dari Suheli. Dahulu ia pernah bersekolah
di SMA Negeri 1 Anyar, Banten. Ketika bersekolah di SMA Negeri 1 Anyar, ia
tinggal di rumah Hampiyah. Di rumah itulah ia bertemu dengan Indra.
Lalu ia bercerita, bahwa ia pun baru tinggal selama tiga
tahun di kampung ini. Ia pindah karena pandemi Covid-19 membuat suaminya
terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari Sangiang Indah Spa Resort.
”Sebenarnya warung ini lanjutin dari Mancak. Berdiri di
Mancak tahun 2006 kayanya, pas si bungsu umur dua tahun. Terus, Ibu ke sini
kan, karena bapak kena phk tiga tahun yang lalu,” sambil berjalan melihat
kalender yang ada di warungnya, ”Iya betul, A, udah tiga tahun. Pindah ke sini
tanggal 24 Mei 2020.”
Setelah meceritakan kedatangannya ke kampung ini, barulah
ia membagikan kisah tentang keluarganya.
Dari pernikahannya dengan Indra, ia pun dikarunia tiga anak perempuan.
Anak yang pertama bernama Retno (29) yang sudah menikah
dan memiliki seorang anak, lalu yang kedua bernama Frida (22) masih menjalani
skripsi di Politeknik Lembaga Pendidikan Profesi Indonesia (LP3I) Serang,
Banten, dan yang terakhir bernama Sindy (19) masih kuliah semester dua di
Universitas Bina Bangsa (Uniba).
Dalam menjalin komunikasi dengan keluarga, ia mengakui memakai
campuran bahasa Lampung, dan Indonesia. Ia mengatakan kalau berbicara dengan anak
yang terakhir, cucu, atau mantunya, ia memakai bahasa Indonesia.
”Tapi
campurlah, A, ada yang bahasa Indonesia,
ada yang bahasa Lampung. Yang paling kecil (Sindy) pake bahasa Indonesia. Sama
cucu ibu yang dari anak pertama, juga bahasa Indonesia. Tapi tetehnya yang dua
mah, bahasa Lampung, “ ujarnya kemudian tertawa “Cuman, kadang karena si kecil pake
bahasa Indonesia, yang gede jadi ikutan pake bahasa Indonesia,” lanjutnya.
Marwiyah memaparkan bahwa semenjak kecil Sindy tidak bisa
diajak mengobrol dengan bahasa Lampung. Ia sendiri merasa heran karena ketika
kecil tidak ada yang mengajari Sindy bahasa Indonesia. Ia pun akhirnya
mengambil kesimpulan mungkin Sindy mendapat pengaruh dari bibi-bibinya yang
tinggal di Cilegon.
”Tapi anehnya, A, Sindy ngerti kalo orang ngomong bahasa
Lampung. Cuma kalo bales tetep bahasa Indonesia. Kalo dipaksa bahasa Lampung
juga, logat jelek, A,” jawabnya sambil berjalan menghampiri seseorang yang
membeli pulsa di warungnya.




Komentar
Posting Komentar