Realisme Sosialis: Aliran Sastra Berlandaskan Estetika Revolusioner
Aliran Sastra Berlandaskan Estetika Revolusioner
Judul : Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Desain Cover : Faried W. Abe
Penerbit : Lentera Dipantara
ISBN : 979-97312-14-7
Cetakan pertama, Oktober 2003
”Bagi saya, keindahan itu terletak pada kemanusiaan, yaitu perjuangan untuk kemanusiaan, pembebasan terhadap, penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemanusian, bukan dalam mengutak-utik bahasa.”
–Pramoedya Ananta Toer
Awalnya buku ini merupakan naskah pra-saran Pramoedya dalam seminar di Fakultas
Sastra Universitas Indonesia pada 26 Januari 1963, di mana ia diberi kesempatan
untuk berceramah. Pada saat itu, ceramahnya mampu menyedot beberapa sastrawan
dan kritikus seperti Goenawan Mohamad, Bur Rasunanto , Taufik Ismail, dan H. B.
Jassin.
Dalam Buku ini, Pramoedya menjabarkan poin-poin penting perihal sastra aliran realisme sosialis. Secara garis besar realisme sosialis berakar dari filsafat Marxisme, yaitu Materialisme Dialektis dan Historis (MDH). Menurut Teeuw dalam Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, Pramoedya sendiri mengakui tidak pernah memperlajari Marxisme atau membaca karya-karya Marx.
Dalam buku Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis karya Eka Kurniawan, Eagleton mengungkapkan, ”Kritik Sastra Marxis merupakan bagian dari sebuah bangunan besar analasis teoritis yang bertujuan untuk memahami ideologi—gagasan-gagasan, nilai-nilai dan perasaan yang digunakan manusia untuk menghidupi masyarakat dalam berbagai masa. Gagasan-gagasan, nilai-nilai dan perasaan-perasaan tersebut tersedia bagi kita hanya dalam kesusastraan.”
Sebelum lebih jauh, alangkah baiknya adalah menijau filsafat Marxis dalam melihat hubungan struktur masyarakat. Marx berpendapat bahwa dalam struktur masyarakat terdapat dua buah struktur, yaitu basis-struktur (struktur dasar, ekonomi) dan superstruktur (struktur atas, politik). Ekonomi dalam filsafat Marxis menempati struktur dasar, yang secara luas mempengaruhi bidang-bidang lain dalam struktur atas. Dengan begitu sastra sebagai harus ditinjau dalam hubungannya dengan struktur ekonomi masyarakat pula.
Perkembangan terjadi karena adanya dialektika di antara kelas-kelas masyarakat yang saling bertentangan. Munculnya kelas-kelas itu tersendiri didorong oleh-oleh faktor material, yaitu ekonomi. Misalnya pertentangan antara kelas ”tuan” dan ”budak”. ”pemilik lahan” dan ”penggarap lahan”, maupun antara ”kapitalis” dan ”proletar”, yang semuanya mengidentifikasi suatu pertentangan kepentingan ekonomi.
Meskipun Marx dan Engels tidak pernah menyusun suatu teori khusus mengenai estetika, pandangan-pandangannya mengenai seni dan sastra; pandangan-pandangannya mengenai seni dan sastra tersebar dalam bentuk fragmen-fragmen dan dikumpulkan dalam buku On Literature and Art.
Menurut Sapardi Djoko Damono dalam Sisiologi Sastra, Marx dan Engels seperti kebanyakan pemikir abad ke-19, yaitu memiliki gambaran sastra sebagai cerminan masyarakat. Dalam pembicaraannya tentang sebuah lakon Shakespare, Timon of Athens, Marx mengatakan bahwa lakon itu mencerminkan fungsi sosial uang; uang merupakan ’tenaga gaib’ yang mengontrol manusia dan dan membentuk esensi sosialnya.
Marx memuji Shakespare yang telah menggambarkan esensi uang sebagai sesuatu yang berada di luar manusia, yang mengatur tindak-tanduknya, namun juga merupakan sesuatu yang diciptakanya untuk bisa dipergunakannya. Kemudian, Engels mengatakan dua pokok penting pikiranya tengan sastra:
Pertama, tendensi politik penulis haruslah disajikan secara tersirat saja. Semakin tersembunyi pandangan penulis tentang semakin bermutulah karya yang ditulisnya. Ideologi politk bukanlah merupakan masalah utama bagi si seniman, dan karya sastranya akan menjadi lebih baik apabila ia berhasil membuat ideologi politik itu tetap tersembunyi. Engels mengatakan isi utama novel harus muncul secara wajardari situasi dan peristiwa yang ada di dalamnya.
Kedua, Engels menjelaskan bahwa setiap novelis yang berusaha mencapai realisme harus mampu menciptakan tokoh-tokoh yang representatif dalam karya-karyanya, sebab pengertian realisme meliputi reproduksi tokoh-tokoh yang merupakan tipe dalam peristiwa yang khas pula.
Bisa dikatakan Lenin-lah yang menjadi peletak dasar hubungan partai dan sastra, serta kesenian secara umum, sebagaimana tersiar dalam pamfletnya Party Organisation and Party Literature.
Lalu dalam Pengatar Penerbit Semut Api di buku Materialisme Dialektis dan Historis karya Joseph Stalin (terjemahan PMA), Marx hanya bicara tentang ”metode dialektis” sementara Engels tentang ”dialektika materialis”. Ekspresi ”materialisme dialektis” pertama kali dipakai oleh Joseph Dietzgen di tahun 1887, salah satu kawan koresponden Marx. Kemudian Lenin-lah yang menggunakan term ini secara sistematis dalam Materialism and Empiro-Critiscm (1908).
Sesudah Lenin, wacana Marxisme Soviet terbagi oleh dua orientasi pemikiran ”dialektis” (Deborin) dan ”mekanis” (Bukhrain). Untuk mengatasi perdebatan di antara kedua kubu ini, Sekretariat Jendral Partai, Stalin mengeluarkan dekrit di tahun 1931 yang memutuskan, bahwa materialisme dialektis' adalah sama dengan Marxisme-Leninisme.
Lantas, kemudian Stalin menjalankan modifikasi atas ajaran tersebut secara lanjut di pamfletnya, Dialectical and Historical Materialism atau MDH. MDH inilah konsep yang diajarkan di sebagian besar negara sosialis dan partai-partai serta organisasi-organisasi Kiri di berbagai negeri, termasuk Indonesia.
Aliran Sastra Realisme Sosialis
Realisme sosialis lahir pertama kali dalam Kongres Pertama Sastrawan Sovyet yang diketuai oleh Marxim Gorky di Moskow pada tahun 1934. Istilah realisme sosialis secara resmi diperkenalkan melalui ucapan Andrei Zhdanov:
”Pertama-tama, ini berarti bahwa kita harus mengenal hidup untuk bisa melukiskannya dengan sebenarnya dalam suatu kerja seni, tidak dengan cara sekolahan yang kering. Tidak hanya melukiskan ”kenyataan objektif saja”, tapi melukiskan kenyataan dalam pertumbuhan revolusionernya.
Dalam pada itu kenyataan dan watak historik yang konkret dari lukisan artistik mesti dihubungkan dengan tugas pembentukan ideologis dan pendidikan pekerja-pekerja dalam semangat sosialisme. Metode-metode kerja sastra dan kritik sastra ini kita namakan metode realisme sosialis" –Halaman 28
Menurut Pramoedya, realisme sosialis merupakan metode yang meneruskan filsafat materialisme dalam karya sastra serta meneruskan pandangan sosialisme-ilmiah. Dalam menghadapi persoalan masyarakat, realisme sosialis mempergunakan pandangan yang struktural fundamental.
Senafas dengan Pramoedya, Georg Lukacs mengungkapkan, bahwa realisme sosialis sesungguhnya merupakan teori seni yang mendasarkan pada kontemplasi dialektik antara seniman dan lingkungan sosialnya.
Seniman ditempatkan tidak terpisah dari lingkungan tempatnya berada. Hakekat dari realisme-sosialis, menempatkan seni sebagai wahana penyadaran bagi masyarakat untuk menimbulkan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang terasing dan mampu menyadari diriya sebagai manusia yang memiliki kebebasan.
Sebelumnya sejarah dipandang sebagai suatu gerak yang tetap, mutlak, dan alamiah. Perkembangan selanjutnya dari cara pandang ini munculnya pemahaman baru mengenai sejarah. Sejarah mulai dipandang sebagai perubahan yang justru bergantung kepada diri manusia itu sendiri. Maka dari itu, kehidupan sosial, sejarah masyarakat, tidak lagi menjadi timbunan kejadian-kejadian kebetulan.
Karena arah pemikiran seperti itulah realisme sosialis lahir untuk menempatkan kaum proletar sebagai manusia-manusia penggerak dan penentu arah sejarah. Aliran ini pun mengambil jarak atau bersebrangan dengan aliran realisme sebelumnya yang lebih memihak kepada golongan borjuis yang kemudian dikenal dengan realisme borjuis.
Dalam kritik sastra realisme-sosialis, kemunculan subjek yang bersifat individual ditiadakan. Subjek yang dibela dan dihidupkan adalah subjek kaum tertindas. Sastra dan karya sastra harus menunjukan kemampuan untuk menunjukan kemampuan untuk memberikan kesadaran terhadap ketertindasan subjek kelompok tersebut.
Dengan mendasarkan hal itu, maka kritik sastra kelompok ini tidak mempersalahkan persoalan struktur dalam atau intrinsik karya sastra. Berbeda dengan sastra borjuis yang tidak mempunyai kewajiban atau tanggung jawab terkecuali pada estetika dan pada manusia dan masyarakat yang belum jelas ada atau tidaknya.
Materiil, Politik, dan Revolusioner
Realisme Barat atau lebih tepatnya dinamai realisme borjuis, merupakan pembatasan terhadap pandangan seseorang pada realitas-realitas an-sich tanpa membutuhkan kritik. Seballiknya realisme sosialis sebagai metode sosialis menempatkan realitas sebagai bahan-bahan global semata untuk menyempurnakan pemikiran dialektik.
Bagi realisme sosialis, setiap reallitas, setiap fakta, cuma sebagian dari kebeneran, bukan kebenaran itu sendiri. Realitas tak lain hanya satu fakta dalam perkembangan dialektika. Sedangkan bagi realisme borjuis mempunyai kencenderungan melawan realitas itu sendiri untuk memenangkan idealisme.
Metode dialektis berpendapat bahwa proses perkembangan tidak boleh diartikan sebagai gerakan dalam lingkaran, tidak sebagai repetisi sederhana dari apa yang sudah terjadi, tetapi sebagai gerak yang maju dan naik, sebagai peralihan dari keadaan kualitatif yang lama ke keadaan kualitatif yang baru, sebagai perkembangan dari yang sederhana kepada yang rumit, dari yang rendah, kepada yang tinggi.
Menurut Lenin, perkembangan adalah perjuangan dari yang bertentangan. Jika dunia ini berada dalam situasi yang bergerak dan berkembang, maka jelaslah bahwa tidak ada sistem-sistem sosial yang tidak bisa berubah. Karena itu sistem kapitalis bisa digantikan oleh sosialis, persis seperti pada satu waktu sistem feodal digantikan oleh sistem kapitalis.
Dalam pertentangan kebudayaan dengan politik di masa itu, sastra terikat erat dengan politik. Dalam politik terdapat dua macam filsafat yang tidak kompromi, yaitu idealisme dan materialisme, yang menjalar dalam segala perkembangan diferensasinya dan manifestasinya.
Berlawanan dengan idealisme, yang menganggap dunia sebagai bentuk penjelmaan suatu ”ide absolut”, suatu ”ruh semesta”, ”kesadaran” maka materialisme berpendapat bahwa dunia menurut sifatnya materiil.
Dalam Materialism and Empiro-Critiscm, Lenin mengatakan kesadaran dan pemikiran kita adalah hasil dari anggota tubuh jasmani yang materiil, yaitu otak kita. Materi bukanlah bentuk kesadaran, tapi kesadaran itu sendiri hanyalah produk yang tertinggi dari materi.
Materi ialah kenyataan objektif. Materi, alam, keadaan, jasmani adalah primer. Sedangkan jiwa, kesadaran, perasaan, rohani adalah sekunder. Gambaran dunia menurut materialisme adalah gambaran materi bergerak dan materi berpikir. Dan otak adalah organ untuk berpikir.
Materialisme pada umumnya mengakui keadaan nyata yang objektif (materi) yang terlepas dari kesadaran, sensasi, pengalaman. Kesadaran hanyalah refleksi dari keadaan, paling-paling suatu refleksi yang mendekati kebenaran—cocok, sungguh-sungguh tepat—daripadanya.
Tokoh utama realisme sosialis adalah pujangga besar Soviet Maxim Gorky, terutama dalam karya utamanya Ibunda. Munculnya gerakan sastra ini tidak ada tanggal, bulan, dan tahun yang pasti. Pramoedya dengan hati-hati, menerka-nerka kemunculan realisme sosialis pada permulaan tahun 1905.
Novel Ibunda mengajak pembaca masuk ke dalam dunia kaum buruh di kota industri di Rusia, dengan berlatar awal abad-20, ketika benih-benih revolusi muncul. Situasi kumuh pabrik yang mewarnai hidup parah buruh. Seluruh hidup buruh pun dikendalikan oleh peluit pabrik dan digilas oleh kemiskinan, sehingga terdorong untuk lari pada minuman keras dan menyalurkan rasa getir dan marahnya kepada orang yang berada pada posisi lemah, terutama istri dan anak.
Lingkaran hidup ini pada akhirnya dipatahkan oleh pemuda buruh bernama Pavel Vlassov dan ibunya Pelgia Vlassov. Pada masa remajanya Pavel sempat hanyut dalam lingkungan ini. Namun, setelah membaca buku-buku sosialis, ia berubah menjadi pemuda yang serius mencari mencari apa yang dianggapnya kebenaran, dan memikirkan usaha untuk mengubah lingkungannya.
Alur cerita kemudian menggambarkan tahap demi tahap perubahan, bukan dari diri Pavel, tetapi pada diri Pelgia, ibunda. Melalui mata dan telinga sang ibulah, proses-proses menuju revolusi sosialis disampaikan. Perubuhan pada diri ibu, dari rasa khawatir dan takut, menjadi pendukung setia gerakan anaknya.
Maka ibunda yang buta huruf, mulai tertarik untuk kembali belajar membaca, sautu hal yang ditinggalkannya semenjak menikah. Titik balik penting dalam kehidupan ibunda terjadi ketika Pavel dijebloskan dalam penjara, karena tuduhan menyebarkan pamflet gelap di pabrik.
Lalu, inisiatif ibunda untuk membantu menyebarkan di pabrik dengan cara menyembunyikannya dalam keranjang makanan jualannya. Jika penyebaran pamflet terus berjalan, bearti tudahan terhadap Pavel akan batal. Ketika usaha itu berhasil, dan menyebabkan keonaran di pihak penguasa dan kegairahan di kalangan buruh, ibunda pun merasa bangga dan merasa dirinya begitu berarti.
Dalam titik ini, cinta ibunda kepada Pavel telah mengalami transendensi menjadi cinta bagi semua anak manusia.
Marxim Gorky dilahirkan dengan nama Aleksei Maksimovich Peshkov pada tahun 1868 di desa Nizhniy Novgorod. Ia pun hanya mengeyam pendidikan formal beberapa bulan saja, dan sejak berusia 7 tahun sudah berkerja untuk menopang hidupnya. Pada umur 12 tahun ia mengembara ke daerah Volga dan melakukan kerja kasar di toko-toko atau di kapal yang melintasi sungai Volga.
Pada masa mudanya ia mulai tertarik dengan paham sosialis dan komunis, lalu mulai aktif berorganisasi dan berurusan dengan polisi dan penjara akibat aktivitasnya tersebut. Skesta-sketsa sastra pertamanya tentang kaum buruh, petani, dan gelandangan, dan sejak itu reputasinya di bidang sastra dan politik semakin mencuat.
Pada bulan Januari 1905, sehabis Gorky menyelesaikan naskahnya Notes on Philistinisme ia menyebarkan proklamasi menentang pemerintah. Berhubung dengan peristiwa ”Minggu Berdarah” 22 Januari 1905, Gorky ditangkap, tapi kemudian dilepaskan kembali karena membanjirnya protes-protes internasional atas penangakapannya.
Minggu Berdarah merupakan pemogokan yang dipimpin oleh Georgy Gapon, pendeta Kristen Ortodoks yang diikuti 200.000 buruh ke Istana Musim Dingin di St. Petersburg, dengan tuntutan 8 jam kerja sehari, upah minimum 1 Rubel per hari, dan menuntut adanya perwakilan rakyat yang dipilih secara demokratis.
Persitiwa tersebut menamamkan keyakinan hati Gorky akan kekuatan solidaritas internasional, Ia semakin menjadi militan dan menjadi organisator penerbitan koran Bolsjewik. Penerbitan ini langsung berada di bawah pimpinan Lenin. Di masa inilah Lenin melihat pentingnya kekuatan kultural, sastra khususnya dalam perjuangan untuk memenangkan sosialisme, dan pada tahun ini juga Lenin merumuskan hubungan antara sastra dan politik, bahwa:
”Kegiatan sastra harus jadi bagian daripada kepentingan umum kaum proletariat, menjadi ’roda dan sekrup’ kesatuan besar mekanisme sosial-demoraktik, yang digerakan oleh seluruh barisan depan klas pekerja yang mempunyai kesadaran politik. Kegiatan sastra harus menjadi unsur daripada garapan partai dengan gabungan sosial-demokratik yanng terorgansasi dan terencana” –Halaman 16-17
Dari keterangan Lenin, dapat lihat bahwa realisme sosialis adalah pempraktikan sosialisme di bidang kreasi sastra. Realisme sosialis adalah salah satu metode di bidang kreasi sastra untuk memenangkan sosialisme selamanya punya warna, dan lebih penting lagi adalah politik yang tegas, militan, tidak kentara, tak perlu malu-malu kucing atau sembunyi-sembunyi, sesuai dengan nama yang dipergunakannya.
Realisme sosialis merupakan bagian integral dari kesatuan mesin perjuangan umat manusia dalam menghancurkan penindasan dan penghisapan rakyat pekerja, yakni buruh dan tani dalam menghalau imperialisme, kolonialisme, dan meningkatkan kondisi dan situasi rakyat pekerja di seluruh dunia.
Kelahiran sastra bukanlah berkah atau secara kebetulan saja, melainkan tanggapan atas kehidupan sosial yang tidak menunjukan rasa keadilan. Realisme sosialis tidak mengajarkan orang menerima realitas dan menyerah kepada keadaan. Pramoedya merangkum dua macam dalam penulisan, yaitu romantisme-patriotik dan realisme-kreatif atau realisme-revolusioner.
Romantisme-patriotik adalah sebagian intergral dalam realisme sosialis, sebagai salah satu syarat untuk mewujudkan objektivisme dalam tulisan lapangan di lapangan politik. Sedangkan realisme-revolusioner, yang dalam penulisan sastra mewujudkan dialektik perkembangan realitas itu sendiri. Realisme sosialis tidak mengajarkan orang menerima realitas dan menyerah kepadanya.
Kapitalisme adalah musuh manusia dan kemanusiaan. Watak realisme sosialis bukan hanya nampak militansinya terhadapat kapitalisme, tapi lebih jauh lagi dalah juga militansinya dalam mempertahankan dan mengembangakan semangat anti-kapitalisme internasional.
Sastrawan realisme sosialis tidak perlu takut politik, ia bahjan mesti membiasakan diri dengannya. Politik tak lain dari suatu realitas-sosial. Sedangkan filsafat borjuis yang menolak realitas itu sendiri mencoba menolak politik dan tidak bertanggung jawab atas perkembangannya.
Mengutip Tempo edisi 21 Mei 1998, sikap tidak tak berpartai itu antara lain muncul dari kata-kata H. B. Jassin sendiri yang menulis, ”Kami tidak masuk partai kiri atau kanan, itu bukan berarti bahwa kami tidak punya pendirian, tapi karena baik partai kiri dan kanan ada kekurangan-kekurangan yang harus tetap kami hadapi secara kritis.”
Lalu menurut Eka Kurniawan, pandangan seperti itu—di awal tahun ’60-an, memang bisa dianggap tidak bijaksana, dan akan terjerumus ke dalam tuduhan ”anti Manipol”. Karena itu, tidak mengherankan jika muncul banyak lembaga kebudayaan yang berafiliasi ke partau polirik atau organisasi kemasyarakatan tertentu. Lembaga-lembaga tersebut bisa disebut antara lain Lekra (PKI), LKN (PNI), Lesbi (Pertindo), Lesbumo (NU), Laksmi (PSII), Leksi (PERTI), LKKI (Partai Katolik) serta ISBM (Muhammadiyah).
Dalam pandangan Lekra, kebudayaan bukan hanya tidak bisa dilepaskan dari masyarakat, tapi, juga—dengan itu—dari politik. Sastra sebagai suatu bidang kebudayaan, karenanta juga merupakan bagian dari politik. Ini sejalan dengan pandangan realisme sosialis yang dianut oleh Lu Hsun, bahwa sastra sesungguhnya merupakan alat dari politik. Dan sastra merupakan bentuk lain dari propaganda.
Pandangan kebudayaan Lekra itu kemudian menjadikan istilah ”politik adalah sebagai panglima” dalam kerha seni Lekra. Politik harus menjadi obor. Politik sebagai panglima (1-5-1) merupakan semboyan pegangan, agar sebelum melakukan penggarapan seni, sastrwan harus mengaji dari jurusan politik. Kesalahan politik lebih jahat dari pada kesalahan artistik.
Konsep 1-5-1 dijabarkan (5.1) Meluas dan meninggi, (5.2 Tinggi Mutu Ideologi dan Tinggu Mutu Artistik, (5.3) Tradisi dan Kekikinian Revolusioner, (5.4) Kreativitas Individual dan Kearifan Massa, (5.5) Realisme Sosialis dan Romantik Revolusioner.
1. Meluas dan Meninggi
Meluas didefinsikan bahwa karya para seniman Lekra harus mampu menjangkau massa atau rakyat luas. Meninggi diartikan bahwa karya yang dihasilkan seniman Lekra harus memiliki mutu dan landasan artistik yang telah ditetapkan.
2. Tinggi Mutu Ideologi dan Tinggu Mutu Artistik
Lekra memiliki pandangan bawha seni tidak bisa berdiri sendiri. Seni bagi lekra harus berpihak pada rakyat sehingga ideologinya adalah kerakyatan.
3. Tradisi dan Kekikinian Revolusioner
Lekra memiliki pandangan bahwa para seniman harus pandai melihat tradisi. Bahkan, feodal atau tradisi yang terpengaruh oleh feodalisme. Memperbarui tradisi adalah meneruskan tradisi tapi tidak menghancurkannya. Tradisi diubah untuk kepentingan rakyat.
4. Kreativitas Individual dan Kearifan Massa
Kerja seniman Lekra hanya ditujukan untuk massa atau rakyat. Kreativitas individual harus didasarkan cita-cita massa atau rakyat. Sebagai seorang seniman, kreativitas yang dibawa adalah kreativitas dari massa yang berupa kearifan lokal.
5. Realisme Sosialis dan Romantik Revolusioner
Secara fundamentalis, romantik revolusioner merupakan sikap yang berpihak pada sesuatu yang baru dan sedang bergerak untuk kehidupan yang lebih baik dan lebih indah. Romantisme revolusioner yang berdiri tegak di atas dasar kenyataan tentang kontradiksi-kontradiksi kehidupan.
Njoto di hadapan Kongres Nasional Lekra mengatakan bahwa; ”Politik itu penting sekali. Jika kita menghindarinya kita akan digilas mati olehnya. Oleh sebab itu, dalam hal apa-apa pun dan kapan pun, politik harus menuntun segala kehidupan kita.
Dalam realisme sosialis telah menjadi ketentuan bahwa pengarang harus belajar dari rakyat. Banyak cara dan bisa ditempuh, terutama mencemplungkan diri ke dalam gerakan massa, mengenal perasaan mereka, mengenal spontanitas dalam menyatakan perasaan mereka, bersama mereka ikut mewujudkan apa yang harus diharapkan oleh mereka.
Dalam gerakan massa sastrawan-sastrawan digembleng untuk timbul dan tenggelam. Dalam kehendak massa tersebut terletak kehendak yang adil dan benar. Kehendak mereka adil dan benar karena titik bakar penilaiannya adalah keringat mereka sendiri.
”Sastra harus jadi huntebaar atau alat yang luwes untuk keperluan ini. Sastra sebagimana alat-alat lain yang mungkin, harus jadi senjata yang ampuh, yang secara integral ikut memenangkan perjuangan buruh dan tani.” –halaman 110
Realisme Sosialis di Indonesia
Sastra sosialis di Indonesia timbul dari orang-orang yang berjiwa sosialisme. Awal mulanya sebagai naluri bertahan terhadap kematian yang disebabkan karena kezaliman-sosial. Kemudian mereka melakukan kegiatan kreasi dengan menyalurkannya ke dalam cerita-cerita yang mengingatkan pada kezaliman-sosial.
Realisme sosialis bukanlah baru di Indonesia. Dalam pergerakan kemerdekaan, sastra perlawanan telah memperlihatkan benih-benih sosialisme-ilmiah sporadik, meskipun belum menemukan satu pandangan dunia dan baru merupakan pengetahuan. Contohnya adalah gerekan kemerdekaan dalam kebangkitan kebudayaan (Boedi Oetomo), agama (Sarekat Islam), dan nasionalisme politik (Indische Partij).
Pramoedya mengemukakan perbedaan sastra sosialis dan realisme sosial adalah sama perlunya dengan perbedaan antara sosialisme utopis dan sosialisme ilmiah. dapat dikatakan sebagai realisme ”cikal bakal” yang masih bersifat sosialisme utopis. Sedikit membela, Pramoedya mengistilahkan sebagai kekeliruan, bukan kesalahan.
Sejak tahun awal abad ke-20 Indonesia telah menghasilkan sastra sosialis. Seperti Hikayat Siti Mariah karya Hadji Moekti yang dimuat cerita bersambung dalam koran Medan Prijaji, Bandung, 7 November 1910 hingga 6 Januari 1912 dan terbit Njai Permana karya Tirto Adhi Soerjo pada tahun 1912.
Cerita bersambung Hikayat Siti Mariyah menggambarkan secara kompleks pertarungan sosial, politik, dan ekonomi, serta kultural. Menurut Pramoedya, Hidji Moekti berhasil menggambarkan tokoh-tokoh borjuis pribumi sebagai makhluk tanpa cita-cita, tanpa sedikit pengetahuan bahwa segala rahmat hidup yang mereka terima sebenarnya berasal dari keringat para pekerja.
Kemudian Nyai Permana, yang berkisah tentang seorang anak lurah yang dipaksa kawin dengan polisi. Ketika suaminya mengorup petani saat pembagian tanah. Nyai Permana sampai pada suatu kesadaran untuk berpihat pada petani. Ia pun pergi meninggalkan suaminya dan kembali ke desa. Berkumpul lagi bersama masyarakat petani.
Namun sayangnya Hikayat Siti Mariyah dan Njai Permana belum adanya usaha yang besungguh-sungguh untuk mempertentangkan dua kelas yang bertentangan yairu, proletar dan borjouis. Keberpihakan mereka terhadap rakyat yang lemah lebih merupakan suatu komitmen sosial dan bukan atas dasar dorongan landasan-landasan yang yang lebih ilmiah.
Namun hal ini dimaklumkan oleh Pramoedya karena kurang atau belum adanya pendidikan ideologi yang teratur padas saat itu, sehingga tokoh-tokohnya hanyalah wakil-wakil dari kelas mereka masing-masing dan belum berwujud kelas-kelas dengan kencenderungan ada cita-citanya
Pada tahun 1919 terbit Student Hidjo Marco Kardikromo dan tahun 1924 terbit Rasa Merdika atau Hikayat Sudjanmo karya Soemantri, menurut Pramoedya merupakan karya realisme sosialis di Indonesia pada awal abad 20. Namun mengenai sastra realisme sosialis di tahap awal ini Pramoedya memberi ulasan kritis dengan menulis, sebagai berikut:
”Sudah tentu, bahwa dalam realisme sosialis tingkat pertama masih banyak mengalami kekeliruan, bukan kesalahan. Karena, sekalipun pendasaran pendasaran filsafat dan teori sudah benar, karena belum adanya tradisi yang cukup lama, memudahkan orang melukiskan satu menggambarkan sesuatu yang menyalahi teori Marxisme. Dan terutama sekali di Indonesia kekeliruan-kekeliruan ini banyak sekali berasal dari asal sosial pengarang bersangkutan, yang masih membebaninya dengan buntut-buntut yang dibawanya dari asal sosialnya, tak peduli panjang atau pendek. Di Indonesia pada tahun-tahun belasan, hampir setiap orang menerbitkan karya untuk umum berasal sosial borjuis kecil, sedang didikan ideolozinya pun belum kuat dan teratur. Tidak mengherankan, apabila dalam karya Semaoen (cuma sinopsis) dan Mas Marco orang biasa menemukan kompromi antara ”happy ending” borjuis yakni sampainya pahlawan dan pahlanawan ke ranjang pengantin dengan meningkatkan perjuangan fiktif yang sumber pada kedua pahlawan yang telah sampai di ranjang mereka.” –halaman 74
Novel Student Hidjo bercerita tentang pemuda bernama Hidjo yang pergi belajar ke Belanda untuk menjadi insinyur. Perginya Hidjo ke Belanda dimaksudkan oleh ayah agar orang-orang yang merendahkan keluarga bisa mengerti, bahwa semua manusia itu sama saja. Semua berawala dari rasa sakit hati ayahnya terhadap saudara-saudaranya tidak mau kumpul dengan keluarganya. Saudaranya berpikir derajat lebih tinggi daripada ayahnya yang hanya seorang saudagar atau petani. Di masa itu menjadi saudagar atau masih tmasih dipandang remeh, karena yang layak dihormati adalah pegawai Gourmeverment.
Selain itu, novel ini juga menggambarkan zaman pergerakan, berikut potongan isi surat Biroe kepada Woengoe: ”Barangkali kamoe telah mendengar kabar bahwa di dalam bulan Maret ini (1913) di Solo akan diadakan kongres (verrganding besar) dari perhimpuan Sarekat Islam”. Kemudian potongan balasan isi surat Woengoe kepada Biroe: ”Soeratmoe telah koeterima. Memang mas Jo dan saja kepingin sekali bisa datang di Solo boeat meleabrkan pemandangan”
Akhirnya pada hari minggu mereka datang ke Sriwedari, Solo. Mereka pergi bersama Wardojo (kakaknya Woengoe) dan Prajogo (teman Wardojo) menyaksikan kongres Sarekat Islam, antara lain:
”Sepanjang jalan di kota Solo, dipenuh dengan orang-orang yang akan datang ke Sriwedari, untuk melihat vergadering itu. Pada waktu itu, seolah-olah semua orang Hindia sudah bersatu hati dan bersama-sama menuju ke tempat yang berperikemanusiaan.”
Kemudian terdapat ppercakapan-percakapan yang mengadung perlawanan kepada orang-orang Belanda. Ketika Controleur, Walter ingin pulang ke Belanda ia bertemu dengan kapten prajurit Hinda Belanda, Sergeant Djepris Lalu dalam sebuah percakapan, Djepris mulai menghina bangsa Jawa yang katanya kotor, bodoh, malas, dan tidak punya adat istiadat. Namun, Walter yang membatahnya:
”Tuan berkata, ’orang jawa itu kotor’, tetapi Tuan toh mengerti juga bila ada orang Belanda yang lebih kotor daripada orang Jawa?”
”Orang jawa bodoh kata tuan. Tentu saja karena pemerintah memang sengaja membuat bodoh kepadanya. Mengapa Regeering tidak membuat sekolah yang secukupnya untuk orang Jawa atau orang Hindia. Sedang semua orang tah, jika tanah Hindia itu yang membuat kaya tanah kita, Nederland.”
”Orang jawa malas, kata Tuan pula. Tuan toh mengerti juga ada beribu-ribu orang Jawa yang seharian masuk kerja sampai mandi keringat sekedar mencari sesuap nasi. Apakah memang sudah semestinya dia bekerja terlalu berat? Sedangakan tanahnya, adalah tanah yang kaya raya. Adakah di negeri belanda orang bekerja seberta itu hanya mendapatkan bayaran 25 ct atau 30 ct seperti orang Jawa? Tidak ada kan?”
”Apakah karena orang Jawa tidak mendapatkan pelajaran dari sekolah seperti orang Eropa, lalu Tuan berkata tidak beschaafd (adat istiadat)? Saya tahu betul, bahwa orang Jawa adatnya lebih halus, pikirannya lebih dalam daripada orang Eropa Kebanyakan.”
Marco Kartodikromo dilahirkan menjelang akhir abad ke-19 di Cepu, sebuah daerah yang kemudian akan berkembang gerakan saminisme (sebuah gerakan komunis primitif). Akhir abad ke-19 adalah tahun-tahun yang penuh kesengsaraan bagi rakyat Indonesia di Jawa, karena akibat dari liberalisme yang kenyataannya adalah free fight competition to exploit Indonesian.
Ia adalah seorang wartawan Jawa yang menulis sekitar sepuluh karya pada dasawarsa kedua abad ke-20. Ia memulai kariernya sebgau wartawan pada usia muda, dan sepanjang hidupnya berjuang sebagai anggota Sarekat Islam Merah di Semarang, yaitu fraksi komunis dari Sarekat Islam. Ia berapa kali dipenjarakan dan meninggal dalam pengasingan diBoven Digul, Papua.
Lalu, karya selanjutnya adalah Rasa Merdika, yang memiliki kadar sosialisnya lebih tinggi dari Student Hidjo. Rasa Merdika, lewat Sujarmo, mengisahkan tentang kemuakan terhadap kehidupan birokrat-feodal yang membuat Sujarmo memutuskan menempuh jalannya sendiri: memasuki dunia politik atau pergerakan yang di saat itu terpecah menjadi tiga golongan besar: nasionalis, agama, dan komunis.
Namun pada tahun 1928, Balai Pustaka menerbitkan roman Abdul Moeis berjudul Salah Asuhan, sebuah roman semi-otobiografik, yang sekaligus merupakan puncak penerbitan Balai Pustaka. Menurut Pengakuan Abdul Moeis sendiri dalam buku ini, redaksi Balai Pustaka meminta diadakannya perubahan-perubahan atas naksah tersebut. Abdul Moeis tidak menjawab dan akhirnya Balai Pustaka melakukan penggerayangan atas inisiatif sendiri terhadap novel tersebut.
Bukan saja ada bagian yang diduga didepolitikkan, tapi juga ada pengubahan-pengubahan cerita itu sendiri Corry sebagai tokoh imbangan Hanafi, dalam naskah asli seharusnya menjadi pelacur, tapi hal ini tidak terdapat dalam penerbitan Balai Pustaka karena Corry setidak-tidaknya mempunyai darah Belanda, karena itu dia tidak boleh jatuh dalam keadaan yang bisa terjadi pada pribumi.
Dengan munculnya Salah Asuhan, pemerintah Hindia Belanda telah berhasil membuktikan dirinya mampu memberikan bacaan bernilai. Yaitu, bacaan yang memenuhi syarat-syarat sastra yang baik, sastra yang jauh dari soal-soal poliitk. Penerbitan Belanda telah memenangkan perjuangannya dengan menon-politikan sastra, bahwa sastra perlawanan itu salah, emosinya tidak terkendali dan bahasanya buruk.
Faktor lain tentunya berhubungan dengan kegagalan pemberontakan PKI pada bulan November 1926, yang secara langsung dan tidak langsung semakin membuat karya sastra perlawanan tenggelam.
Kegagalan ”Angkatan 45” dalam Cita-Cita Revolusioner
Surat Kepercayaan Gelanggang dikeluarkan oleh sekelompok pengarang/seniman di masa itu yang menamakan diri ”Gelanggang Seniman Merdeka”, atau lazim disebut ”Gelanggang” saja. Gelanggang merupakan suatu organisasi di mana pengarang yang beraliran (atau bercita-cita) ”humanisme-universal” coba dikonsolidasikan. Menurut Pramoedya, aliran ini memandang kesamaan umat manusia di mana pun.
Keyakinan seperti itu tampak sangat jelas dalam alenia pertama dokumen Surat Kepercayaan Gelanggang, sebagai berikut:
”Kami adalah ahli-waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami terusakan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan dengan cara rakyat bagi bagi kami adalah kumpulan camput-baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.”
Pembedaan lainnya yang dicoba dikemukkan terhadap Angkatan 45 dengan angkatan sebelumnya (Pujangga Baru), merujuk pada perbedaan semangat yang ditampilkan kedua angkatan tersebut. Sebagaimana yang dikatakan Bujung Saleh menganggap Pujangga Baru merupakan gambaran nyata dari keadaan kesusastraan borjuis dalam pertumbuhannya, sementara Angkatan 45 di sisi lain, cenderung akan mempersoalkan hal-hal yang konkret, yang menjadi masalah rakyat, masalah bangsa, dan masalah dunia.
Pramoedya sendiri terlibat langsung dalam penyusunan Surat Kepercayaan Gelanggang dan menjadi anggota ”Gelanggang Seniman Merdeka”. Akan tetapi, di kemudian hari ia justru menjadi penentang keras Angkatan 45 dan Gelanggang dengan humanisme-universal-nya.
Surat Kepercayaan Gelanggang dituding oleh Pramoedya sebagai pengagung sikap individualisme. Suatu sikap yang ingin menempatkan seniman jauh dari masyarakatnya, suatu golongan yang klas, unik, dan tinggal di menara gading. Humanisme-universal Gelanggang dan Angakatan 45 merupakan lahan yang subur bagi perkembangan kebudayaan kapitalis, borjuis, dan feodalisme yang disebabkan penghambaan pada individulisme tersebut:
”Ufuk ’humanisme-universal’ yang cuma ada dalam fantasi, tidak ilmiah, tidak nyata, menjadi bengkok porak-poranda kena serbu masalah manusia yang nyata, yakni buruh dan tani yang karena kemenangan revolusi ditinggalkan mentah-mentah oleh golongan-golongan masyarakat yang merasa menajdi pemenang Revolusi, melupakan segala jasa yang diberikan oleh buruh dan tani yang membiayai seluruh Revolusi, dari umpan peluru, umpan perut, kelengkapan-kelengkapan. Sedang ’humanisme-universal; yang mau dikembangkan juga itu oleh segolongan seniman dan sastrawan pada pokoknya tidak lain daripada membuat titik-balik dalam kehidupan kebudayaan.” –Halaman 91-92
Melihat kemerosotan yang terjadi oada Angkatan 45, para penganut realisme-sosialis ini kemudian mencetuskan sebuah organisasi yang dinamai Lekra. Lekra didirikan 17 Agustus 1950, dengan para pencetusnya antara lain D. N. Aidit, M. S. Ashar, A. S. Dharta (Klara Akustia), Nyoto. Lekra sebagai sebuah organisai kebudayaan, dalam keyakinannya melihat ketidaklepasan seniman dengan masyarakat. Lekra sangat sadar bahwa hanya rakyatlah satu-satunya kebudayaan tercipta. Pandangan-pandangan ini tersurat dalam nasakh Mukadimmah Lekra.
Melansir https://doniahmadi.medium.com/lekra-setelah-50-tahun-a035beb8efd, pembentukan Lekra itu didasari dari situasi politik Tanah Air kala itu. Setelah Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, pada tahun 1949 Indonesia tidak bisa dikatakan merdeka seratus persen. Pembentukan Lekra dimaksudkan untuk membebaskan diri dari ketergantungan penjajah. Dengan kata lain Lekra dibentuk dengan tujuan mendukung revolusi dan kebudayaan nasional dengan prinsip “Seni Untuk Rakyat”.
Namun perlu dikritisi, tidak semua anggota Lekra mengklaim dirinya sebagai kelompok komunis—Pemberian cap ini bisa dimengerti mengingat Lekra didirikan D. N. Aidit (pemimpin PKI) dan Njoto, serta banyak tokoh Lekra yang bergabung dalam PKI. Meskipun para seniman membawa keyakinan Marxis (atau terpengaruh Marxis) dalam berkesenian, banyak seniman yang tidak tersangkut-paut dengan komunis atau PKI.
Pramoedya sendiri tidak pernah bergabung dengan Lekra dari bawah, melainkan diundang dan kemudian menjadi anggota. Ia menganggap dirinya dicomot dan ditangkringkan di Lekra, padahal banyak orang lama di Lekra sendiri yang tidak menyukainya. Di Lekra, ia tidak bisa memerintah dan tidak mau diperintah. Namun, karena hubungannya dengan Lekra-lah, ia mendapatkan cap sebagai komunis.
Daftar Pustaka
Chambert-Lior, Henri. 2018. Sastra dan Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Damono, Sapardi Djoko. 2022. Sosiologi Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fokkema, D. W & Kunne-Ibsch, Elrud. 1998. Teori Sastra Abad Keduapuluh (Terj. J. Praptadiharja & Kepler Silaban: Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gie, Soe Hok. 2016. Zaman Peralihan (Stanley & Aris Santoso. Mata Bangsa
Gorky, Maxim. 2002. Ibunda (Terj. Pramoedya Ananta Toer). Jakarta: Sembrani.
Kartodiktomo, Marco. 2018. Student Hidjo. Yogyakarta: Penerbit Narasi.
Karyanto, Ibe. 1997. Realisme Sosialis Georg Lukacs. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kurniawan, Eka. 2022. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Stalin, Joseph. 2021. Materialisme Dialektik dan Historis (Terj. PMA). Yogyakarta: Penerbit Semut Api.
Susanto, Dwi. 2018. Lekra, Lesbumi, Manifes Kebudayaan, Sejarah Sastra Indonesia Periode 1950-1965. Yogyakarta: CAPS.



Komentar
Posting Komentar