Cerpen: Berita Duka di Ulang Tahun DKI Jakarta
Berita
Duka di Ulang Tahun DKI Jakarta
Pagar rumahmu sedikit bercelah. Aku yang kurus
bisa melewatinya dengan memiringkan badan. Tanpa menimbulkan suara berderak karena tidak menggoyangkan besi beroda yang tingginya hanya sedadaku. Aku
berhenti sebentar. Aku melihat bunga-bunga indah di pekaranganmu terlihat habis
diinjak-injak seseorang.
”Siapa gerangan yang berani melakukan ini,
Sobatku?” tanyaku pada tangkai patah.
”Seorang pemimpin di daerah kita, Sobat,” jawabnya dengan merintih
kesakitan.
”Kurang ajar benar. Aku turut prihatin, Sobat. Ke
mana perginya bungamu?”
”Aku tidak tahu, Sobat, tiba-tiba telah terlepas
dari tangkaiku. Menjadi tangkai tanpa bunga sungguh menyedihkan.” ucapmu
sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Melihat tangkai itu menutup usia, aku berdoa
sejenak untuk keselamatannya di alam sana. Lalu aku berjalan menuju pintu
rumahmu yang terlihat terbuka setengah. Kucekik gagang pintumu untuk melebarkan
jalanku. Tiba-tiba bau kencing tikus menubruk hidungku yang mancung.
Beruntung aku masih bisa bertahan dan tidak
mimisan. Bau darahku dan kencing tikus itu hanya membuatku enggan masuk ke
dalam. Aku semprot sedikit ruang tamu dengan parfum isi ulang. Bau permen karet
menyerbak, lalu baunya mencoba mengimbangi bau kencing tikus.
Baru lima langkah, tiba-tiba rambutku yang ikal terasa basah
dan lengket. Kucium tanganku. Tak lama aku terbatuk-batuk ingin muntah.
Kemudian di atas sana terdengar suara cicak berdecak seolah-olah
menertawakanku.
Kunyalakan ponsel pintarku dan menyalakan
senternya ke arah suara itu berada. Ketika menemukannya, aku langsung melolot
kepadanya. Karena mataku yang tajam ini,
ia terkejut dan jatuh ke dalam lubang kaki sepatumu.
Cicak itu membelah dirinya. Buntutnya tetap di
lubang sepatumu, sedangkan badannya masuk ke dalam kaos kakimu yang tergeletak
tak jauh dari sepatumu.
Kaos kakimu berguncang-guncang seperti karung
berisi anjing yang ingin dipukuli majikannya untuk dibunuh. Setengah menit
kemudian tidak ada lagi guncangan yang timbul dari kaos kakimu.
Karena melihat kejadian itu, aku melupakan rambutku
dan tanganku yang kotor karena tai cicak. Aku berjalan menuju pojok ruang
depanmu untuk menekan saklar lampu. Namun, ketika kupencet lampu di ruang
depanmu tetap mati.
Aku mengeluh sejenak. Beruntung sinar matahari
siang ini mampu menjadi penerang di rumahmu. Aku berhenti. Menghirup nafas
sejenak. Kupandangi sekeliling rumah depan rumahmu. Benda-benda di rumah sudah
tertimbun debu tebal.
Meja dan kursi di ruang depan rumah tampak usang.
Namun kayu jati yang mahal itu masih menunjukan kekokohannya dan keanggunan
pola kayu itu. Hanya saja taplak mejamu di ujungnya terlihat habis digerogoti
tikus.
Di kolong meja, terlihat bunga mawar telah
mengerut layu dan sudah berwarna kehitaman keluar dari vas bunga kaca yang
telah pecah. Aku pegang sebentar vas bunga kaca itu. Kuteliti pecahnya seperti
dipotek. Karena pecahannya berbentuk segitiga layaknya piza.
Di ruang depan rumahmu, pikiranku berkelana ke
sebuah masa. Di masa, di mana kita berpacaran ketika kuliah di salah satu
perguruan tinggi negeri di ibukota.
Aku selalu mengajakmu makan piza di restoran
dekat kampus samping terminal. Sekarang restoran itu telah bangkrut dan
berganti menjadi kedai kopi.
Di kedai kopi itu aku memesan americano.
Di dalam air kopi yang berwarna coklat kehitaman itu aku melihat bayangan
dirimu begitu cantik. Kau memakai baju berwarna biru. Lalu bayanganmu lenyap
dan berganti bayangan diriku.
Aku memakai sweater berwarna abu-abu dan
membawa kue ulang tahun. Di atas kue itu tertanda sebuah angka. Dua puluh satu.
Ketika membawa kue itu aku diiringi oleh tiga sahabatku.
Dirimu berlari-lari kecil, menghampiriku yang
sedang berjalan di pekarangan rumahmu. Entah siapa yang memberitahu akan
kedatanganku. Apa memang dirimu hanya reflek mendengar suara pagarmu berderak.
Di perkarangan rumahmu, bunga-bunga indah
terkejut. Beberapa bunga pun ada yang tersipu malu. Sedangkan dirimu menatapku
begitu dalam dan tersenyum bahagia. Entah mengapa malah aku yang dibuat kikuk
sendiri.
Dalam kikuk. Aku lupa menyanyikan lagu selamat
ulang tahun. Beruntungnya tiga sahabatku dan bunga-bunga yang indah mau
membantu menyanyikannya.
Tiup lilinnya, tiup lilinnya
Tiup lilinnya, tiup lilinnya
Tiba-tiba dirimu menyuruh kami semua diam. Jari
telunjuk di tangan kananmu menunjukan ke atas dan didekatkan ke mulut. Dirimu
memejamkan mata sejenak, lalu bebicara. Dirimu memberitahuku, bahwa dirimu
dipanggil kembali menjadi wartawan di tempat magangmu kemarin.
Kemudian sebelum berkeinginan meniup lilin,
dirimu ingin memanjatkan doa terlebih dahulu. Dirimu berdoa agar aku cepat
melakukan magang dan tidak terlambat jauh untuk lulus. Ketika kutanya mengapa
dirimu tidak mendoakan dirimu sendiri, agar dipermudah untuk mengerjakan
skripsimu. Dirimu hanya tertawa.
Waktu dirimu tertawa, aku merasakan semilir angin
berputar-putar di pekarangan ini.
Kemudian dengan kode bertempuk tangan. Dirimu
menyuruh kami melanjutkan untuk bernyanyi. Ketika sampai dilirik tiup lilinya.
Kamu meniupnya khidmat dengan memejamkan mata.
”Aw!” teriakku sambil melihat jempol kaki kananku
yang berdarah.
Gigitan tikus menyadarkan lamunanku. Kini
pikiranku berada kembali di ruang tengah rumahmu. Kemudian kuambil taplak bekas
di atas meja untuk mengelap darahku yang terus keluar.
Akhirnya darah itu pun berhenti--walaupun rasa
sakitnya masih berlanjut. Aku kembali memandangi ruang depanmu. Di dalam lemari
yang bermantel debu aku melihat sertifikat dan piala-pialamu tersimpan di
dalamnya.
Dari kacanya yang agak buram, aku membaca dirimu memenangi
lomba esai. Tema lomba itu adalah “Kemajuan Pembangunan Infrastruktur Kota
Jakarta” untuk merayakan HUT Jakarta ke-496, 22 Juni 2023.
Setelah merasa cukup, aku berjalan ke ruang
tengahmu. Ruang tengahmu juga tak kalah berantakan. Kuamati sebentar. Ruang ini
adalah ruang makan, sekaligus ruang keluarga. Di atas meja terlihat berbagai
peralatan dan tisu.
Ketika aku menghampiri meja itu, keluarlah banyak
kecoak dari tempat sendok. Dengan panik kecoak itu kabur berhamburan menyusuri
meja makanmu. Aku masih bersyukur karena tidak ada yang terbang menubruk
wajahku.
Setelah kecoak itu kabur, aku mengambil sendok dari tempatnya. Sendok yang ada di
rumahmu itu seperti sendok sulap. Ketika kuangkat ia bengkok, namun ketika
kutaruh ke tempatnya ia kembali tegak.
Lalu, di atas meja itu juga terdapat tiga piring
pecah. Pecahnya persis vas bunga. Pecahnya berbentuk segitiga seperti dipotek
seseorang. Beruntungnya potekan yang berbentuk piza itu, tidak membawaku kembali
kedai kopi dekat terminal kampus.
Ketika melihat tempat tisu, aku teringat rambutku
yang terkena tai cicak. Kutarik tisu itu, namun ketika ingin kuputuskan sulit
sekali. Akhirnya aku paksakan sekali lagi. Sialnya tisu itu malah keluar dari
tempatnya.
Akhirnya tisu itu tergelar sampai ke
lantai-lantai. Kupegang lama sekali karena terlihat agak ganjil. Tisu itu bukan
hanya panjang, namun juga melebar ke samping. Aku mulai merinding ketika merasa
tisu itu, seakan-akan mirip kain kafan.
Kulempar tisu itu ke depan dan tisu itu menutup
sebagian area meja makan. Tapi itu hanya membuatku semakin merinding. Meja yang
tertutup tisu itu seperti mayat yang ingin dikubur.
Aku tinggalkan ruang tengah dengan rasa ngeri.
Aku ingin kembali ruang depan dan keluar rumahmu. Namun, rasanya kakiku berat
sekali melangkah ke arah tersebut. Seperti ada tangan halus yang menahanku
Setelah melihat keganjilan meja makanmu,
sebenarnya aku sudah tidak kuat jalan lagi. Kakiku sudah sulit diangkat. Tapi,
ada kekutan lain yang membuatku terus mampu melangkah. Kekuatan itu yang
menyetirku ke mana lagi aku harus berjalan.
Aku berjalan mendekati televisi. Tak jauh di
depan televisi terdapat karpet berwarna coklat. Dan di atas karpet tersebut ada
sebuah sapu ijuk sedang terlentang. Kuperhatikan lagi sekeliling, celingak-celinguk
mencari pengkinya. Akhirnya aku pun melihatnya di ruang dapur.
Lalu, kupaksakan kakiku menuju karpet coklat.
Sesampainya di karpet coklat, aku mengambil sapu ijuknya untuk ditempelkan
bersama pengkinya. Namun, lagi-lagi tangan halus menahanku. Aku pun akhirnya
berteriak, namun suara teriakanku seperti tertahan dalam tenggorakanku saja.
Aku mulai takut dengan apa yang kurasakan.
Jantungku berdenyut cepat sekali dan nafasku menjadi ngos-ngosan. Aku
mulai menangis, kemudian aku berdoa. Beruntungnya doa membuat diriku menjadi lebih
tenang.
Dalam keadaan yang lebih tenang, aku mulai
memperhatikan gagang sapu ijuk. Di gagangnya ada tombol berbentuk bulat.
Bertuliskan on dan off. Karena penasaran aku menekan tombol on.
Tiba-tiba rumahmu menjadi berkilau. Makin lama
kilau itu terang sekali dan aku tidak bisa melihat apa-apa lagi selain kilauan
tersebut. Kemudian kilauan itu menyerap tubuhku ke dalam lubang yang tiba-tiba
muncul. Tubuhku akhirnya pun melayang-layang dan berputar-putar.
Beberapa menit kemudian, tubuhku kembali menyentuh
bumi dan kilauan tersebut sudah
menghilang. Sekarang aku berada dalam ruang bertembok putih. Termenung.
Melihat orang-orang memencet-mencet layar transparan. Lalu layar tersebut bisa
menghilang ketika tidak digunakan.
Kemudian ada orang yang berkomunikasi dengan
seseorang, hanya dengan melihat benda seperti jam di tangannya. Ia berbicara
singkat. Lalu keluar kembali layar transparan di hadapan orang-orang.
Terlihat sosok seseorang muncul dalam layar tersebut.
Ia seorang direktur utama
dari sebuah perusahaan besar di negeri
ini. Ia berbicara perihal kemajuan kota yang begitu pesat. Selain itu, ia juga
ingin membuat acara penghormatan kepada pejabat Pemerintah Daerah Jakarta yang pada
satu abad lalu, telah berinisitif membuat halte kapal pesiar di Bundaran HI dan
Tosari. Menurutnya halte itu sebuah bentuk pemikiran yang melampaui pada
zamannya.
Aku mulai menebak-nebak bahwa ruangan ini adalah
ruang kerja kantor. Aku yang tidak suka perihal pekerjaan keluar dari ruangan
ini. Aku keluar ruangan ini bersama karyawan. Sebuah kamera mengahap ke
karyawan tersebut dan pintu terbuka.
Ketika giliranku, kamera itu seperti tak melihat
apa-apa. Aku bingung harus membuka pintu bagiamana. Karena di sini tidak ada
gagang pintu seperti di rumahmu.
Akhirnya dengan terpaksa aku mencoba
mendobraknya. Aku hantam pintu dengan tubuhku. Namun, aku malah terjatuh ke
lantai karena ternyata tubuhku menembus pintu itu.
”Aduh,” teriakku kesakitan.
Ketika membuka mata, aku lagi-lagi dibuat
terkejut. Kulihat tembok-tembok transparan langsung menuju laut. Kulihat
ikan-ikan dan terumbu karang beserta sampah-sampah plastik yang ikut meliuk-liuk dalam air.
Aku berjalan lagi ke depan. Ketika selesai
menyelusuri sedikit ruangan bertembok transparan ini, aku baru mengetahui bahwa
ruangan ini adalah jalan yang menghubungkan dari kantor lain ke kantor
lainnya.
Selesai berputar-putar, aku penasaran dengan plang
yang mengarahkan ke tempat pemberhentian kapal. Lalu, aku naik ke lantai dua
ruangan ini. Kemudian, dengan mulut terbuka aku melihat kantor-kantor terendam
laut. Transportasi umum di Jakarta, bukanlah lagi bus TransJakarta yang
bisa mengantarku pergi ke kampus.
Di pemberhentian kapal ini aku melihat
mobil-mobil bisa berjalan di air. Biarpun kota Jakarta sudah direndam laut,
kemacetan adalah penyakit bawaan yang tidak bisa disembuhkan.
Anehnya orang-orang tidak yang tertarik memotret
kemajuan kota ini. Memotret jalan raya, pembatas jalan, lampu merah yang serba
transparan. Sebenarnya aku sendiri ingin mengabadikan kejadian ini. Namun
sayangnya, aku tidak membawa ponsel pintar.
Lalu di atas kepalaku, ada jalan raya dan lampu
merah yang melayang-layang untuk mengatur ketertiban mobil-mobil terbang.
Mobil-mobil terlihat tertib walaupun sedikit macet dan tidak ada polisi.
Tak lama kemudian. Kapal datang. Karena penasaran
aku masuk ke dalam dan mencari tempat duduk. Ketika duduk, aku merasakan
bangkunya begitu lembut dan aku akhirnya malah ketiduran.
Ketika terbangun aku berada dalam kamarmu. Diriku
sudah tertidur terlentang di atas kasur rongsokmu. Kasur itu membuat badanku
sakit-sakit karena beberapa pernya sudah menonjol keluar dan busanya sudah
tipis. Belum lagi selimutmu yang bercorak bunga itu ketika kutarik tersimpan
hewan lipan.
Aku langsung bangkit dari kasurmu. Lalu
memukul-mukul debu yang mengikut di baju dan celanaku. Dan, membiarkan jendela kamarmu
tetap tertutup hordeng, karena debunya hanya mengotori tanganku. Walapun kamar
ini jadi terlihat gelap dan bau apak.
Aku perhatikan, kamarmu hanya berisi kipas angin,
lemari baju—tanpa kaca, rak buku–sebesar lemari baju, meja belajar, lampu
belajar, dan gitar klasik.
Satu-satu yang menjadi penghias kamarmu, adalah
pigura berbentuk segi empat yang menampilkan setengah badan dirimu. Foto itu
agak ganjil. Latar belakangnya berwarna putih berpadu dengan baju putih serta
rambut yang sudah ditumbuhi uban.
Kupandangi lama sekali hingga akhirnya bunyi
geledek menyadarkanku. Hujan mulai turun dan semakin deras. Gentingmu ternyata
bocor. Semakin deras hujan, semakin banyak tetesan hujan jatuh menyipratkan ke
bajuku.
Suara geledek makin menggelegar. Namun aku
mendengar suara ibuku mengimbangi suara itu. Hujan semakin deras dan dari
plafon kamarmu air seperti air mancur yang menyiram mukaku.
Seketika aku kaget mendengar, ”Bangun, Ray,
bangun. Niat kuliah nggak si kamu. Baru juga semester dua,” teriak ibuku menyadarkan
diriku dari mimpi aneh tentang dirimu.
Begitu yakin aku telah bangun, barulah ibuku
keluar dari kamarku. Ketika ibuku keluar, aku masih tidur-tiduran karena suara
hujan di luar membuat diriku malas.
Aku memikirkan mimpi tadi. Aku datang ke rumahmu
yang begitu tak terurus.
Aku saja tidak tahu rumahmu di mana.
Lalu aku pernah menjadi pacarmu dan sering makan
piza denganmu di restoran dekat terminal. Kemudian restoran itu menjadi kedai
kopi.
Di samping terminal saja Alfamart dan pangkas rambut
Dan, aku merayakan ulang tahunmu yang kedua puluh
satu.
Dirimu saja masih sembilan belas tahun.
Lalu yang paling menyeramkan adalah foto dirimu
yang sudah tua di pigura. Berlatar belakang putih dan dirimu pun berbaju putih
dengan rambut yang telah ditumbuhi uban.
Untuk menghilangkan mimpi itu dalam kepala, aku
membuka ponsel pintar. Ternyata hari ini, hari Rabu, 21 Juni 2023. Aku harus
berangkat ke kampus untuk melakukan ulangan akhir semester.
Pukul 11.00 aku mandi dan pukul 11.10 aku sudah
di atas motor lengkap dengan jas hujan. Sepanjang perjalanan aku hampir
mengalami tabrakan. Selain buru-buru mengejar waktu karena pukul 12.00 aku
harus ujian, di jalan aku terus memikirkan dirimu.
Pukul 11.40 aku sampai parkiran kampus. Di parkiran aku masih punya waktu sepuluh menit untuk membakar rokok. Sepuluh menit kemudian kupakai untuk berjalan ke gedung tujuan dan naik lift ke lantai
sembilan.
Sudah pukul 12.10, dosen sudah membagikan kertas
ujian. Namun dirimu belum juga masuk ke dalam kelas. Entah mengapa, aku menjadi
semakin khawatir denganmu. Karena hingga selesai ujian dirimu tak kunjung
datang.
***
Di ulang tahun Jakarta yang ke-496, seluruh
televisi memberitakan dua kabar duka. Berita itu tentang dua orang penumpang
TransJakarta. Orang yang pertama adalah dirimu. Angin kencang membawa hujan
masuk ke jembatan transit Dukuh Atas. Dirimu yang terburu-buru mengejar waktu
ujian--sekaligus menghindari basah, berjalan cepat sekali tanpa memperdulikan
jalan licin dan orang yang berjalan bersinggungan denganmu.
Ketika berjalan cepat, tiba-tiba kamu melihat
seseorang berjalan berlawanan arah denganmu. Jembatan yang lebarnya cukup buat
satu orang itu membuatmu kaget. Untuk menghindari terjadinya benturan
dengannya, dirimu mengerem mendadak dan akhirnya terpeleset, lalu terjatuh
geledak dengan kepala terlebih dahulu.
Orang kedua adalah seorang ibu paruh baya berumur
lima puluh lima tahun. Menurut keterangan polisi, kemungkinan besar korban
terpeleset karena buru-buru menuju toilet. Sebelumya, korban sempat menanyakan
keberadaan toilet kepada karyawan TransJakarta.
Hujan deras dan angin kencang menerobos masuk ke
bangunan lantai dua halte Tosari. Lalu polisi menambahkan, ketika ibu paruh
baya tersebut terjatuh, tidak ada yang melihatnya.
Sepuluh menit kemudian, barulah ibu paruh
tersebut ditemukan oleh remaja yang ingin buang air besar ke toilet. Lalu melaporkannya
kepada karyawan TransJakarta.


Komentar
Posting Komentar